Hidayatullah.com—Gambar-gambar yang menunjukkan bentrok antara mahasiswa dengan polisi menjadi symbol penentangan warga Kashmir terhadap pemerintah India, sebagai fase baru konflik di wilayah yang menjadi rebutan dua Negara.
Peningkatan tajam kekerasan sejak beberapa minggu terakhir ini, lebih spontan dari sebelumnya, mempersulit tugas pasukan keamanan India menghadapi pemberontakan dan kurangnya peralatan untuk mengatasi kerusuhan yang lebih luas.
Kebuntuan politik di negeri yang dihuni mayoritas Muslim itu adalah satu hambatan bagi menyelesaikan sengketa lama di Kashmir, setelah kebangkitan nasionalisme Hindu di beberapa bagian di India, sejak Narendra Modi menjadi Perdana Menteri pada 2014.
Ketika pasukan keamanan India memasuki kampus dan universitas di Pylwama, 30 kilometer di selatan Kashmir – ibu kota Srinagar, India – ratusan siswa melempar batu ke arah mereka, sebelum pertempuran terjadi di koridor gedung dan kamar mandi.
Dalam waktu beberapa hari, protes meluas memaksa kebanyakan kampus dan sekolah di Kashmir ditutup. Remaja perempuan untuk pertama kali dalam beberapa tahun ikut berbaris di jalan raya. Setidaknya 100 demonstran terluka.
“Setiap siswa ingin mengatakan bahwa kami tidak ingin ada hubungannya dengan India,” kata seorang siswa berusia 19 tahun dikutip dhakatribune.com, Jumat (12/05/2017.
Pergolakan semakin membara di Kashmir – wilayah gerakan separatis Islam selama beberapa dekade – sejak Juli lalu, ketika seorang pemimpin pejuang yang populer tewas, memicu pertempuran berbulan-bulan mengorbankan lebih 90 orang sipil.
Pemimpin kelompok perlawanan Kashmir, Mirwaiz Umar Farooq mengatakan, pertama kali orang menolak permintaan menghentikan demonstrasi.
“Hari ini ada kebencian mutlak terhadap India. Demonstran menolak lagi mendengar permintaan siapa pun, “katanya.
Sebuah pemberontakan yang meletus pada tahun 1989 melawan India telah mereda dalam beberapa tahun terakhir, namun kebanyakan orang Kashmir merindukan kemerdekaan, menuduh pasukan keamanan melakukan pelanggaran hak-hak yang meluas. Sementara Delhi menuntut untuk mengakhiri kekerasan.
Mantan Kepala Mata-mata India, AS Dulat berpendapat situasi di Kashmir tidak seburuk seperti sekarang ini, sementara juru bicara Kementerian Dalam Negeri India, KS Dhatwalia mengatakan, semua tindakan melempar batu ke arah pemerintah harus dihentikan sebelum pemerintah berhadapan dengan kelompok separatis.
Pemimpin politik lokal meninggalkan kediaman masing-masing demi keselamatan keluarga di Srinagar. Seorang presiden sebuah partai politik di wilayah Pulwama, Abdul Gani Dar, ditembak mati oleh seseorang , April lalu, merupakan satu dari serangkaian serangan terhadap politisi lokal.
Baca: Sekjen OKI Nyatakan Hak Penentuan Nasib Sendiri Rakyat Kashmir
Dukungan kepada kekerasan terus menyebar di daerah yang sebelumnya secara tradisional lebih aman. Pada Maret lalu menyaksikan kekerasan besar-besaran di Chadoora, kali pertama terjadi sejak tahun 2000, menyebabkan tiga warga sipil tewas.
Seorang dokter, Shabir Ahmad mengatakan, dia mulai memberi dukungan kepada kelompok separatis dan pengunjuk rasa setelah adik iparnya berusia 21 tahun ditembak mati di Chadoora.
“India kehilangan Kashmir karena perbuatannya sendiri,” kata pria berusia 35 tahun itu di rumah keluarganya, duduk di samping mertuanya yang sedang berduka.
Menurut Shabir, sentimen Hindu garis keras yang dibawa Modi, memperdalam rasa keterasingan mereka. Sebelum ini, Modi pernah meminta anak-anak Kashmir untuk memilih antara “pariwisata dan terorisme”, sebuah komentar yang membuat penduduk setempat marah.
Beberapa warga Kashmir yang tinggal di daerah lain India, termasuk siswa, pulang ke kampung halaman setelah menghadapi diskriminasi.
Peningkatan serangan terhadap umat Islam, terutama terkait penyembelihan sapi – hewan suci Hindu – juga menimbulkan kekhawatiran warga Muslim.
Beberapa warga Kashmir yang tinggal di India ‘daratan’ telah kembali ke rumah setelah menghadapi diskriminasi, termasuk mahasiswa Hashim Sofi, 27, yang tiba di kamar asramanya di negara bagian Rajasthan dengan sebuah tulisan di kaosnya “anjing Kashmir”.
Sofi sempat melaporkan ke kepala sipir asramanya bahwa seseorang telah menulis komentar tidak pantas di pintu kamar asramanya dan di dua kaosnya yang saat itu disimpan di balkon di luar saat sedanag dikeringkan.
“Mereka mengatakan bahwa semua warga Kashmir adalah teroris,” kata peneliti di institut di Rajasthan ini melalui telepon.
Ketua Menteri Negara bagian Jammu dan Kashmir Mehbooba Mufti yang memerintah dengan bantuan Partai Bharatiya Janata dipimpin Modi, masih berharap Delhi akan mengadakan dialog baru.
“Kashmir tidak dapat dilihat sebagai daerah terpencil,” katanya.*