Hidayatullah.com– Tindakan Turki baru-baru ini memperkecil kemungkinan penjajahan militer Qatar, Syeikh Ahmad al-Raysuni, Wakil Presiden Persatuan Internasional Ulama Muslim (IUMS) yang bermarkas di Doha, mengatakan.
Dalam wawancara eksklusif dengan Anadolu Agency untuk mendiskusikan krisis politik intern Arab, al-Raysuni menyebut upaya-upaya untuk mengisolasi Qatar oleh segelintir negara Arab merupakan sebuah “reaksi yang berlebihan”.
Pada 5 Juni, lima negara Arab – Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Yaman – tiba-tiba memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar, menuduhnya mendukung terorisme.
Mauritania mengikuti jejak mereka tidak lama setelahnya, sementara Jordania mengurangi hubungan diplomatiknya dengan Doha.
Arab Saudi juga menutup perbatasan daratnya dengan Qatar, secara geografis mengisolasi negara kecil Teluk itu.
Qatar, dengan berat menyangkal tuduhan bahwa negaranya mendukung terorisme, menggambarkan langkah untuk mengisolasi itu “tidak dapat dibenarkan”.
Baca: Persatuan Ulama Dunia: Isolasi Negara Muslim pada Negara Muslim Lainnya Itu ‘Haram’
Al-Raysuni, mengatakan negara-negara yang saat itu terbentuk melawan Qatar “ingin membungkam semua oposisi” bagi kebijakan regional mereka.
“Mereka ingin membungkam semua kritik mereka dan semua gerakan oposisi di wilayah,” dia menegaskan.
Dia menambahkan bahwa beberapa negara yang saat ini sedang mencoba untuk mengisolasi Qatar memiliki kekuatan untuk melanjutkan tekanan yang lebih besar pada negara Teluk itu.
“Qatar bisa saja diduduki, khususnya oleh UEA atau Arab Saudi,” katanya, menambahkan bahwa tindakan cepat Turki pada krisis itu telah “menghilangkan kemungkinan tersebut sejak awal”.
Al-Raysuni menunjuk bahwa Turki tidak hanya mendukung Qatar dalam keadaan sulitnya saat ini, tetapi secara khusus berdiri melawan penindasan dan embargo yang tidak adil.
Baca: Isolasi Qatar Tak Sesaikan Krisis, Erdogan Desak Negara Teluk Cabut Embargo
Dia kemudian mengutip “hubungan yang dalam” antara Turki dan Qatar, sembari mengatakan hubungan tersebut berakal dari hubungan sejarah antara Kekaisaran Ottoman dan keluarga Al-Thani yang berkuasa saat ini di Qatar.
Al-Raysuni juga mengatakan bahwa krisis di dalam hubungan internal Arab ini tidak secara besar berimbas pada rakyat Qatar, tetapi menggambarkan efek tindakan yang dilakukan oleh enam negara Dewan Kerjasama Teluk (GCC) sebagai “sebuah luka yang akan membutuhkan waktu lama untuk sembuh”.
“GCC saat ini sangat terpolarisasi antara Oman, Qatar dan Kuwait di satu pihak dan Arab Saudi, UEA dan Bahrain di pihak lain,” katanya, bahkan setelah dua pihak berdamai, efeknya akan bisa terjadi “bertahun-tahun”.
Baca: Persatuan Ulama Palestina Kecam Penyebutan Syeikh Qaradhawi dalam ‘Daftar Teroris’
Al-Raysuni, yang berasal dari Moroko, menyebut posisi Rabat pada krisis itu “hati-hati, adil dan terhormat”.
Pada awal minggu ini, pemerintah Moroko kembali menyerukan agar penyelesaikan krisis dilakukan melalui dialog.
Turki Kirim 5000 ton makanan ke Qatar
Sementara itu, hari Ahad ini, Turki mengirim 5.000 ton bahan makanan ke Qatar dengan mengunakan 71 pesawat. Bantuan Ankara tiba setelah Doha diblokade oleh Arab Saudi dan negara-negara Arab lain.
Pengiriman bantuan bahan makanan dalam jumlah besar itu disampaikan Menteri Perekonomian Turki Nihat Zeybekci, pada hari Sabtu.
”Sekitar 5.000 ton bahan makanan diangkut ke Qatar dengan 71 pesawat, pengirimannya dimulai akhir pekan ini (kemarin), truk juga mengangkut,” kata Zeybekci seperti dikutip oleh surat kabar Hurriyet Daily News, Ahad (18/6/2017).*/Nashirul Haq AR