Hidayatullah.com–Mohamed Hassan adalah penggali kuburan di pemakaman Barakat di pinggiran ibu kota Somalia, Mogadishu.
Hassan (50), menggambarkan kesulitannya menguburkan anggota badan yang hilang akibat ledakan truk di Mogadishu yang menewaskan sedikitnya 300 orang, dan lebih dari 300 lainnya cedera dan 100 lainnya masih hilang. Ledakan di persimpangan tersibuk di pusat Kota Mogadishu itu adalah peristiwa pengeboman yang paling mematikan dalam sejarah negara Afrika Timur itu.
“Sekitar jam 1 siang kami meninggalkan pemakaman karena tidak ada pekerjaan. Karena biasanya pemakaman banyak dilakukan pada pagi hari. Lalu saya mendengar ledakan yang sangat keras.
“Pagi itu, kami tidak punya pekerjaan yang harus dilakukan karena tidak ada kematian. Biasanya kami mengubur satu orang sehari. Dan pada hari-hari sibuk, setidaknya kami menguburkan dua orang. Memang tidak banyak pekerjaan untuk tujuh orang penggali kuburan yang bekerja di pemakaman ini,” ujar Hassan kepada Aljazeera.
“Tapi dari suara ledakan yang terdengar, kami tahu kami akan sibuk. Ledakannya seperti gempa tapi sangat keras. Kami semua kembali bekerja dan mulai menyiapkan kuburan baru. Biasanya ketika terjadi sesuatu, kami tidak menunggu perintah kerabat korban untuk permintaan penggalian kuburan. Dengan begitu, saat ada yang datang, kami sudah memiliki satu atau dua kuburan yang telah siap.”
“Kami pikir mungkin kami akan menerima paling banyak lima orang untuk dikuburkan. Karena pemakaman kami bukanlah yang terbesar. Dan letaknya pun agak jauh dari kota. Sehingga kebanyakan orang pergi ke kuburan lainnya.”
“Kemudian mayat mulai berdatangan. Ledakan itu terjadi Sabtu siang, dan kami menerima mayat pertama sekitar pukul 6 pagi di hari Minggunya.”
“Saya ingat dengan sangat jelas. Salah satu mayat itu tidak memiliki kepala dan juga kehilangan tangan. Terlihat seperti orang tua, tapi bisa saja saya salah. Kepala nya hancur karena ledakan. Mayat tersebut datang dari rumah sakit, kami diminta untuk menguburnya. Tidak ada yang tahu siapa identitas mayat tsb”.
“Bagaimana Anda mengidentifikasi mayat tanpa kepala?” tanya Aljazeera.
“Saya telah tinggal di Mogadishu seumur hidup saya, dan bahkan selama perang saudara Somalia, korbannya tidak seburuk ini. Saya berusia 50 tahun dan ini adalah yang peristiwa terburuk yang pernah saya jumpai.”
“Rekan-rekan saya juga mengatakan hal yang sama. Saya tidak tahu berapa banyak yang berhasil mereka kubur, tapi kami sudah bekerja tanpa henti sejak Sabtu siang.”
“Bila anda bekerja ebagai seorang penggali kubur, anda akan berpikir bahwa anda telah melihat segalanya dan tidak ada yang akan membuat anda kesal. Tapi membicarakan apa yang saya lihat dari penguburan akibat peristiwa ini, membuat saya menangis. Saya sangat emosional. Saya berharap saya tidak akan lagi melihat hal seperti ini terulang kembali.” */ Khawlah bint al-Azwar