Hidayatullah.com—Sebuah kapal berisi mayat-mayat telah ditemukan terombang-ambing di pesisir utara Jepang. Itu adalah kendaraan laut keempat yang ditemukan bulan ini dan aparat berwenang menduga semuanya berasal dari Korea Utara.
Sebuah kapal kayu yang rompal ditemukan naik turun mengikuti gelombang laut di pesisir wilayah Akita, bagian utara Jepang Ahad (19/11/2017) dini hari. Polisi setempat menemukan pemandangan mengerikan, mengevakuasi sisa-sisa mayat delapan orang dari kapal itu, lapor Deutsche Welle Rabu (29/11/2017).
Mayat-mayat itu sudah mulai membusuk, kata polisi dalam pernyataannya, dan beberapa bagian sudah tinggal tulang-belulang, menunjukkan bahwa kapal itu sudah cukup lama terombang-ambing di Laut Jepang.
Memiliki panjang 20 meter, kapal kehilangan suprastruktur, kemudi, serta tiang-tiangnya. Kapal tersebut memberikan sejumlah petunjuk perihal penumpangnya. Sebuah karakter angka 8 tertulis di bagian haluan dengan warna cat merah yang sudah pudar, dan di badan kapal terdapat jaket pelampung bertuliskan karakter Korea. Polisi juga menemukan bungkus-bungkus rokok Korea Utara.
Sementara pihak berwenang enggan untuk menegaskan dari mana asal kapal tersebut, tetapi sepertinya itu merupakan insiden teranyar “Kapal Hantu” Korea Utara yang ditemukan terdampar di pantai Jepang beberapa waktu terakhir.
“Korea Utara mengalami situasi pangan yang cukup sulit sekarang ini, dan ada laporan bahwa pemimpin mereka memerintahkan agar armada kapal ikan membawa hasil tangkapan lebih banyak,” kata Jeff Kingston, direktur pusat kajian Asia di kampus Jepang Universitas Temple, kepada DW.
“Namun bukti menunjukkan bahwa kapal-kapal perahu ini tidak cocok untuk mengarungi perairan keras di Laut Jepang pada musim gugur,” kata Kingston.
Kondisi fisik dan perlengkapan yang tidak memadai kemungkinan besar menjadi penyebab kapal tersebut menemui ajalnya di laut.
“Ada sejumlah faktor penyebab kasus ini –yang bukan satu-satunya sebab sejauh ini sudah ada 40 insiden serupa di sepanjang pesisir utara Jepang tahun ini, dan sebanyak 500 selama lima tahun terakhir,” kata Kingston.
“Para nelayan didorong agar melaut lebih jauh dari pantai sebab wilayah perairan mereka sudah terlalu banyak diambil ikannya, sementara pemerintah juga menyewakan perairannya kepada armada-armada ikan China,” imbuh Kingston.
“Dan perlu digarisbawahi bahwa kita hanya mendengar perihal kapal yang ditemukan ketika mereka terdampar di pantai. Saya menduga ada banyak lagi kejadian buruk serupa yang mana mereka tidak mungkin kembali dengan selamat.”*