Hidayatullah.com—Dan Johnson, politisi Partai Republik di negara bagian Kentucky, Amerika Serikat, memilih bunuh diri setelah dituduh melakukan pencabulan atas seorang remaja putri.
Johnson, 57, tewas hari Rabu (13/12/2017) akibat satu tembakan senjata api, setelah menghentikan mobilnya di tempat terpencil di kawasan Mount Washington, kata petugas koroner seperti dilansir BBC.
Johnson, seorang uskup gereja Evangelis, terpilih menjadi anggota legislatif (aleg) Kentucky lewat pemilu 2016. Dia berhasil menduduki kursi dewan perwakilan negara bagian itu meskipun sempat mengundang kecaman akibat komentarnya di Facebook, yang membandingkan Barack dan Michelle Obama dengan monyet.
Johnson, rohaniwan di Heart of Fire Church dekat Louisville, mendukung sejumlah rancangan undang-undang berkaitan dengan kebebasan beragama dan pendidikan di sekolah-sekolah.
Hari Senin lalu (10/12/2017) Kentucky Center for Investigative Reporting mempublikasikan laporan tuduhan seorang wanita berusia 21 tahun yang mengatakan bahwa Johnson menyerangnya secara seksual, ketika dirinya berusia 17 tahun, di basement rumah pendeta itu pada malam dini hari tahun baru 2013. Ketika melakukan pencabulan, Johnson dalam kondisi mabuk setelah minum-minum di sebuah bar malam itu. Beberapa bulan kemudian, korban baru melaporkan kasusnya kepada polisi. Namun, kala itu pihak berwenang tidak menindaklanjuti perkaranya, meskipun laporannya didukung oleh pernyataan dari keluarga, catatan terapisnya, serta percakapannya di Facebook dengan Johnson, lapor New York Times.
Berceramah di gerejanya pada hari Selasa (12/12/2017), Johnson mengatakan tuduhan terhadap dirinya itu “sama sekali palsu.” Dia mengait-kaitkan kasusnya dengan tuduhan serupa yang menimpa Roy Moore, politisi Partai Republik di Alabama, yang kalah dalam pemilu khusus senat pada hari yang sama. Tuduhan-tuduhan itu, kata Johnson, bagian dari strategi nasional untuk menghancurkan politisi-politisi konservatif Partai Republik. Oleh karena itu Johnson menolak mundur dari jabatannya.
Keesokan harinya, Rabu (13/12/2017) menjelang pukul 5 petang, dia menulis di laman Facebook pujian dan sanjungan terhadap keluarganya. Dia juga menulis bahwa selama 16 tahun mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD), “penyakit yang akan merenggut nyawaku.”
“[Penyakit] itu telah menang di kehidupan ini, tetapi akhirat adalah rumahku,” tulisnya. Namun, rupanya tulisan itu kemudian dihapus, lapor BBC.*