Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Rezim Myanmar Menolak Pelapor Khusus PBB Tanpa Alasan Jelas

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 22 Desember 2017 17:34 5:34 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 22 Desember 2017 17:34
Bagikan
Perwakilan khusus PBB, Yanghee Lee
Bagikan

Hidayatullah.com—Pemerintah Myanmar menolak Pelapor Khusus PBB Yanghee Lee mengunjungi negeri itu, dengan tuduhan rezim militer menutup-nutipi kejahatan kemanusiaan.

Tudingan itu dilontarkan setelah negara yang dulu bernama Burma tersebut menyatakan bahwa mereka melarang Lee berkunjung sampai masa jabatannya habis.

Sesuai dengan jabatannya, Lee diharuskan berkunjung ke Myanmar dua kali dalam setahun. Sejak ditunjuk PBB pada 2014, profesor di Sungkyunwan University, Korsel, itu sudah enam kali menginjakkan kaki di Myanmar.

Yanghee Lee direncanakan akan mengunjungi Mymanmar  bulan Januari mendatang untuk mengevaluasi pelanggaran hak asasi manusia di seluruh negeri, termasuk pelanggaran hak asasi manusia terhadap Muslim Arakan di Negara Bagian Rakhine.
Lee mengatakan bahwa pemerintah Myanmar telah membatalkan semua akses ke negara tersebut, menunjukkan “prasangka buruk” dan “tidak adil” .

’’Pernyataan (Myanmar) yang menolak bekerja sama dengan mandat saya bisa dipandang sebagai indikasi kuat bahwa ada sesuatu yang buruk terjadi di Rakhine dan di wilayah lain di negara itu,’’ ujar Lee  dilansir Reuters.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Baca: Amnesti: Pembersihan Etnis Rohingya adalah ‘Apartheid’

Lebih dari 650 ribu minoritas Muslim Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh akibat tindakan brutal militer Myanmar sejak Agustus lalu.

“Saya benar-benar sangat kecewa dan sangat sedih dengan keputusan Myanmar untuk menolak kerja sama dengan mandat saya dan dengan mekanisme hak asasi manusia lainnya, dan yang terpenting untuk membungkam orang-orang yang mengungkapkan kekejaman semacam ini,” kata Lee dikutip dari Aljazeera, Kamis (21/12/2017).

Baca: Prihatin Kondisi Rohingya, Musisi Irlandia Kembalikan Penghargaan

Terlepas dari kenyataan bahwa pemerintah Myanmar sebelumnya telah menyatakan ”tidak ada yang disembunyikan” namun Lee melaporkan bahwa dengan keputusan diambil ini, pernyataan tersebut menunjukkan sebaliknya.

Lee mengambil peran pemantauan HAM pada tahun 2014 dan diharuskan mengunjungi Myanmar dua kali setahun untuk melapor ke Dewan Hak Asasi Manusia dan Majelis Umum PBB.

Myanmar juga menolak masuk misi pencarian fakta terpisah yang ditunjuk oleh Dewan Hak Asasi Manusia PBB untuk menyelidiki tuduhan pelanggaran hak asasi manusia di berbagai zona konflik, termasuk di Rakhine.

Zeid bin Ra’ad al-Hussein, kepala hak asasi manusia PBB, mengatakan bahwa larangan keamanan terhadap minoritas Rohingya di Rakhine mungkin sama dengan genosida, sebuah tuduhan yang telah ditolak pemerintah.

Amnesty International menyebut keputusan Myanmar untuk melarang Lee “memalukan”.

“Ini adalah indikasi lebih lanjut bahwa pihak berwenang akan melakukan apapun yang mereka bisa untuk menghindari pengawasan internasional terhadap catatan hak asasi manusia mereka,” kata James Gomez, direktur Amnesty untuk Asia Tenggara dan Pasifik.

Baca: Rezim Myanmar Blokir Badan Bantuan Dunia untuk Rohingya

Sementara itu, sebagian besar pengungsi Rohingya menolak dipulangkan kembali. Mereka merasa situasi dan kondisi di Rakhine belum aman. Badan Pengungsi PBB (UNHCR) bahkan menyebutkan, setiap pekan masih ada sekitar 1.500 penduduk Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh. Jumlah itu jauh menurun jika dibandingkan dengan saat konflik masih panas-panasnya.

’’Kondisi di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, tidak memungkinkan untuk mendukung pemulangan yang aman dan berkelanjutan. Penduduk masih terus mengungsi,’’ ujar Wakil Komisioner Tinggi UNHCR Kelly Clements awal Desember lalu.

Dia menambahkan, sebagian besar pengungsi sudah tidak memiliki apa-apa di kampung halaman mereka. Masalah antara komunitas muslim Rohingya dan Buddha di Myanmar juga belum terselesaikan. Hal itu membuat pemulangan kembali sulit direalisasikan.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Arakanburmaetnis Muslim Rohingyagenosidakejahatan kemanusiaanmiliter MyanmarmyanmarPelapor Khusus PBBpembersihan etnisRakhineRohingyaYanghee Lee
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya TA GNPF: Ulama dan Aktivis Islam Begitu Cepat Diproses Hukum
Tulisan selanjutnya Ahok Dapat Remisi Natal Dinilai Tak Penuhi Syarat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang

Berita
18 Juli 2026 11:26
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
Mantan Pemimpin Qatar Sheikh Hamad bin Khalifa Wafat

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?