Hidayatullah.com– Laporan dokumenter eksklusif televisi Aljazeera mengungkapkan bukti adanya keterlibatan Saudi, Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain dalam mendukung kudeta terhadap pemerintah Qatar yang gagal pada tahun 1996.
Poskan dokumenter pertama hari Senin, episode awal penyelidikan mencakup wawancara dengan aktor yang mencoba kudeta yang memberi kesaksian tentang peran yang dimainkan oleh negara tersebut.
Film dokumenter tersebut juga mengungkapkan sebuah dokumen ringan milik intelijen Arab Saudi dan kerajaan mengenai rencana kudeta tersebut.
Kudeta yang dibajak dikenal sebagai ‘Operasi Abu Ali’ yang direncanakan berlangsung bulan Ramadhan, 14 Februari 1996, setahun setelah mantan Emir Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, mengambil alih tahta.
Rencananya dengan bantuan mantan kepala polisi yang juga sepupu mantan Emir Qatar, Sheikh Hamad bin Jassim bin Hamad Al Thani.
Film dokumenter eksklusif Aljazeera ini telah menemukan bukti keterlibatan Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain dalam mendukung upaya kudeta yang digagalkan untuk menggulingkan pemerintah Qatar pada tahun 1996.
Film dokumenter tersebut juga mengungkapkan adanya komite yang dibentuk untuk menangani operasi kudeta, dipimpin:
-Sheikh Mohammad bin Zayed (mantan Kepala Staf Angkatan Darat UEA yang saat ini menjadi Pangeran Mahkota Abu Dhabi); Sheikh Hamad bin Issa Al Khalifa (mantan Putra Mahkota Bahrain); Sheikh Sultan bin AbdulAziz (mantan Menteri Pertahanan Saudi); dan Omar Suleiman (mantan kepala intelijen Mesir yang juga mantan wakil presiden Mesir).
“Sekelompok orang diperintahkan untuk menyerang rumah Sheikh Hamad bin Khalifa di Jalan Al Rayyan di Doha dan memasukkannya ke dalam tahanan rumah,” kata salah satu komplotan tim kudeta tersebut dikutip Aljazeera baru-baru ini.
Sementara operasi tersebut direncanakan pada pukul 5 pagi tanggal 16 Februari 1996, Emir UEA sekarang, Sheikh Khalifa bin Zayed memerintahkan rencana tersebut untuk diimplementasikan dua hari sebelumnya untuk mencegah agar operasi tak diketahui.
Dalam rencana operasi, setelah menguasai instalasi militer dan keamanan, komplotan kudeta memberi lampu hijau bagi milisi untuk memasuki Qatar dari perbatasan Arab Saudi.
Sayangnya, kudeta yang sudah direncanakan itu tercium dan akhirnya digagalkan.
“Jika mereka berhasil mengendalikan situasi, dan jika pasukan memasuki UEA atau Arab Saudi atau Bahrain, mereka tidak akan memiliki masalah dalam membunuh siapapun yang ditemukan di jalan. Mereka tidak akan rugi, “kata Brigadir Jenderal (Purn) Shaheen al-Sulaiti kepada Aljazeera.
Penyiaran dokumenter tersebut dilakukan setelah delapan bulan sanksi Qatar oleh empat Negara Teluk ( Arab Saudi, UEA, Bahrain dan Mesir) dengan dalih Qatar mendukung terorisme. Doha, bagaimanapun, membantah tuduhan tersebut.
Sebelum ini, analis menuduh Arab Saudi berusaha menggoyang stabilitas keluarga besar Al Thani yang kini berkuasa di Qatar. Keluarga Al Thani yang dikenal memiliki dua faksi besar; Bin Hamad al Thani dan Bin Ali Al Thani). Bin Hamad adalah faksi yang kini berkuasa.
Bulan Agustus 2017, Raja Saudi, Salman bin Abdul Aziz al Saudi sempat menerima Sheikh Abdullah bin Ali al-Thani dengan hangat di Maroko. Sheikh Abdullah bin Ali Al-Thani merupakan saingan penguasa Qatar saat ini, keduanya memiliki hubungan buruk sejak 1970-an.*