Hidayatullah.com–Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana mengatakan pemerintah akan melakuksan menstandarisasi kurikulum pengajaran di sekolah-sekolah Islam baik negeri maupun swasta dan akan mendapatkan pengawasan yang lebih besar dari Kementerian Pendidikan demi mencegah radikalisme.
Lorenzana dikutip Arabnews mengatakan Filipina akan menerapkan sistem madrasah yang dilembagakan dengan kurikulum dan pengawasan yang lebih besar dari Kementerian Pendidikan.
Ia mengklaim, beberapa sekolah ditemukan telah dikelola oleh individu dengan keyakinan ekstrem, menjadikan mereka saluran kepada pendanaan rahasia aktivitas radikal.
Baca: Derita Berkelanjutan Umat Islam Marawi Pasca Darurat Militer Filipina
Kebijakan ini diambil setelah kasus Marawi, Filipina bagian selatan pada tahun 2017.
“Sekolah-sekolah agama baik negeri maupun swasta, dimanfaatkan oleh orang yang berpandangan ekstremis untuk menjadikan muridnya corong pendanaan secara diam-diam untuk kegiatan radikal,” demikian alasan Lorenzana, pada Senin, 4 Juni 2018.
Lorenzana mengatakan hal ini saat berbicara pada konferensi keamanan di Singapura yang dihadiri oleh Menteri Pertahanan AS Jim Mattis dan pejabat pertahanan serta kalangan akademik dari 43 negara. Ia juga melaporkan keberhasilan patroli Filipina yang menargetkan kelompook militan di Laut Sulu.
Sejak Juni lalu, Filipina, Malaysia dan Indonesia telah berpatroli di daerah-daerah sekitar Sabah dan Filipina selatan, di mana militan berniat membentuk kelompok mereka.
Baca: Kartu Identifikasi Khusus untuk Muslim, Cetuskan Kemarahan di Marawi
Pengepungan lima bulan di kota Marawi di pulau selatan Mindanao tahun lalu mengakibatkan lebih dari 1.100 kematian dan 200 ribu orang kehilangan tempat tinggal.
Konflik juga mendorong deklarasi darurat militer di seluruh Mindanao. Meskipun pembebasan Marawi pada 23 Oktober 2017, Kongres Filipina memperpanjang darurat militer sampai akhir 2018 atas permintaan Presiden Rodrigo Duterte.
Lorenzana mengatakan dia bekerja keras untuk meningkatkan pasukannya sambil mengakui bahwa negaranya masih belum dapat mempertahankan wilayahnya sendiri.*