Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Mengapa Pandemi Corona Tak Pengaruhi Kehidupan Warga Jepang?

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 27 April 2020 22:31 10:31 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 27 April 2020 22:24
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | Menjaga kebersihan dan memakai masker adalah budaya orang-orang Jepang, sehingga aturan selama pandemi Covid-19 tak banyak berubah di negara ini. Dalam kehidupan sehari-hari, warga Jepang terbiasa memakai cairan antiseptik (hand sanitizer), masker, dan selalu menjaga kebersihan.

“Dalam kehidupan sehari-hari mereka, warga Jepang terbiasa memakai cairan antiseptik (hand sanitizer), masker, dan selalu menjaga kebersihan. Satu-satunya masalah adalah tidak ada pengujian masif untuk menentukan apakah seseorang terinfeksi atau tidak,” ujar Ahmad, seorang insinyur yang berbasis di Tokyo kepada Anadolu Agency.

Sejauh ini, Jepang melaporkan hampir 13.231 kasus Covid-19, 360 di antaranya meninggal dunia.
Sebelum pemerintah mengumumkan darurat kesehatan, warga Jepang sudah mengambil tindakan pencegahan dengan tidak bepergian.

“Mobilitas warga sudah berkurang sejak adanya wabah ini. Orang-orang sadar bahwa pembatasan sosial sudah menjadi bagian dari rutinitas mereka,” tambah Ahmad.

Virus corona, atau yang secara resmi dikenal sebagai Covid-19, telah menginfeksi lebih dari tiga juta jiwa di seluruh dunia. Virus itu pertama kali dideteksi di Wuhan, China, pada Desember lalu, dan telah menyebar ke lebih dari 200 negara dan wilayah.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Sementara itu, 207.094 orang meninggal dunia akibat virus corona, sedangkan 882.552 pasien sudah dinyatakan pulih.

Mengapa tidak ada tes Covid-19 massal?

Setiap individu harus menjalani serangkaian pemeriksaan, termasuk tes darah, X-ray, dan pengambilan sampel flu, sehingga dokter bisa menentukan apakah seorang pasien memenuhi kriteria untuk menjalani tes Covid-19.

“Proses ini sangat memakan waktu. Apalagi jika ternyata pasien mengidap penyakit yang berbeda. Jika seorang pasien diduga terpapar virus corona, rintangan terbesarnya adalah memanggil pusat kesehatan untuk melakukan tes dan ini hampir selalu ditolak,” ungkap seorang dokter di sebuah rumah sakit di Tokyo seperti dilansir oleh NHK.

Jepang yang merupakan ekonomi terbesar ketiga di dunia, hanya mampu melakukan 7.800 tes per hari. Itu jauh lebih rendah ketimbang Amerika Serikat yang melakukan sekitar 150.000 per hari. Keterbatasan jumlah tes ini telah menimbulkan kekhawatiran tentang keakuratan jumlah kasus Covid-19 di Jepang.

“Pusat kesehatan tidak akan menerima tes, bahkan jika itu untuk pasien yang sangat mungkin terinfeksi,” tambah dokter itu.

Kekhawatiran itu diperparah dengan fakta bahwa 30 persen populasi Jepang adalah orang-orang berusia 60 tahun ke atas, yaitu kelompok usia yang paling rentan terinfeksi virus.

“Ada banyak panti jompo dan fasilitas perawatan bagi orang-orang lansia di Tokyo. Baru-baru ini, salah satunya menjadi cluster. Kami khawatir ada lebih banyak cluster yang belum teridentifikasi,”

Masalah ini kemudian memicu Kedutaan Besar AS di Tokyo untuk mendesak warga Amerika meninggalkan Jepang. Sementara itu, Kato Takuma, seorang pejabat Kementerian Kesehatan Jepang, mengatakan pemerintah telah meminta pusat kesehatan untuk menggelar tes sejak Februari.

Karantina wilayah ancam bisnis ekspor

Bulan lalu, Parlemen Jepang mengeluarkan amandemen yang memungkinkan Perdana Menteri Abe Shinzo untuk mengumumkan darurat kesehatan nasional di tengah pandemi corona. Sejak itu, keadaan darurat diberlakukan di seluruh penjuru negeri, setelah sebelumnya hanya berlaku di tujuh provinsi.

Di sisi lain, Gubernur Tokyo Yuriko Koike mengungkapkan bahwa hukum Jepang membuatnya “tidak mungkin” untuk memaksakan karantina total di Tokyo.

Ahmad, insinyur perangkat lunak, mengatakan dia, bersama dengan ratusan karyawan perusahaan TI, bekerja dari rumah selama sebulan terakhir.

“Kebanyakan orang Jepang bekerja berdasarkan upah harian. Itulah sebabnya kami menolak karantina wilayah,” tambah dia.

“Ekonomi Jepang berorientasi pada ekspor. Sebagian besar konsumen berada di luar negeri. Jadi, jika karantina wilayah diberlakukan, maka bisnis ekspor akan sangat terpukul,” kata seorang pengusaha yang berbasis di Osaka.

PM Jepang pun mengakui bahwa untuk pertama kalinya sejak era pascaperang, ekonomi Jepang menghadapi kriris terbesar. Untuk mendukung sektor ekonomi, pemerintahan Abe meluncurkan paket stimulus terbesar yang pernah ada di negara itu yang setara dengan 20 persen dari PDB negara, yaitu senilai 990 miliar AS dolar. Bantuan itu disalurkan untuk membantu bisnis dan rumah tangga yang terdampak wabah virus corona.

Kehidupan normal dengan tindakan pencegahan

Saat ini Jepang tengah memasuki “musim sakura”. “Biasanya puluhan ribu warga Jepang merayakan musim ini dengan pergi ke taman-taman umum. Sejak adanya wabah ini, jumlah pengunjung pun menurun drastis,” tutur Ahmad.

Meskipun begitu, menurut Ahmad, orang-orang masih pergi memancing atau bermain game. Untuk membendung penyebaran virus corona, pemerintah Jepang pun membatasi perjalanan ke luar negeri. Selain itu, warganya yang datang dari luar negeri harus menjalani karantina sekurang-kurangnya 14 hari.

Menteri Luar Negeri Toshimitsu Motegi menegaskan bahwa para pelancong asing yang punya riwayat perjalanan ke 14 negara – termasuk beberapa negara Timur Tengah seperti UEA, Arab Saudi, dan juga Rusia – dalam dua minggu terakhir sebelum datang ke Jepang akan ditolak masuk.*

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya 86 Persen Calon Jamaah Lunasi Biaya Haji
Tulisan selanjutnya HNW Minta Kemenag Sosialisasi Masif Soal Tarawih

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Berita
31 Mei 2026 04:41
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?