Hidayatullah.com—Pemerintah Jerman telah memveto rencana pengambilalihan sebuah perusahaan teknik oleh perusahaan asal China dengan alasan keamanan nasional.
Yantai asal China berencana membeli pabrik pembuatan mesin Leifeld, tetapi mengurungkan niatnya setelah melihat sinyal pemerintah Berlin akan turun tangan menghambat pengambilalihan perusahaan dalam negerinya oleh pihak asing, lapor BBC Rabu (1/7/2018).
Leifeld adalah perusahaan manufaktur dengan spesialisasi membuat mesin dan perlengkapan untuk industri antariksa dan nuklir Jerman.
Tahun lalu, Jerman memperketat aturan investasi oleh asing, memberikan kekuasaan lebih besar kepada pemerintah untuk menjegal atau membatalkan upaya penguasaan industri dalam negeri oleh pihak-pihak asing. Kasus Leifeld ini merupakan pertama kalinya pemerintah menggunakan wewenangnya tersebut sejak peraturan perundangannya diberlakukan.
Pemilik saham mayoritas Leifeld, Georg Koffler, mengatakan kepada Reuters bahwa Yantai membatalkan rencananya untuk membeli perusahaan itu sebelum diveto Berlin.
Dia mengkritisi kemauan Berlin untuk melakukan intervensi. “Kami percaya kekhawatiran kebijakan keamanan semacam ini tidak bisa dijustifikasi,” kata Koffler kepada Reuters.
Sebagian politisi dan pebisnis Eropa mengkritik keras kebijakan pemerintah China yang berusaha melakukan ekspansi investasi seluas-luasnya di Eropa, tetapi pada saat yang sama sangat membatasi ruang gerak investor asing di negeri tirai bambu.*