Hidayatullah.com–Pihak berwenang Tunisia telah mengidentifikasi pelaku serangan bom bunuh diri hari Senin (29/10/2018) yang melukai 9 orang di ibukota Tunis.
Kantor kejaksaan mengatakan pelaku adalah Mouna Guebla, berusia 30 tahun, seorang sarjana pengangguran yang berasal dari Mahdia, bagian timur Tunisia.
Guebla sepertinya menggunakan bom rakitan dan bukan bom sabuk, kata sumber-sumber kepolisian kepada kantor berita AFP.
Ayah wanita itu meragukan putrinya melakukan aksi tersebut atas kemauan sendiri.
“Saya tahu dia tidak bermaksud sengaja melakukan hal-hal semacam itu,” kata Mouhamed Guebla seperti dikutip AFP.
Setelah kuliah di jurusan bahasa Inggris, Mouna menjadi pengangguran selama tiga tahun, dan dia membantu mengurus domba-domba demi menopang kehidupan keluarganya.
Tunisia termasuk negara di kawasan Afrika yang paling tinggi tingkat pendidikan warganya. Sayangnya, sepertiga dari lulusan perguruan tinggi menganggur.
Menurut Menteri Dalam Negeri Hichem Fourati, Mouna Guebla tidak termasuk dalam daftar orang yang diawasi pihak keamanan atau potensial ekstrimis dan “tidak diketahui” perihal latar belakang keagamaannya atau afiliasinya.
Hingga saat ini belum ada kelompok yang mengklaim berada di balik serangan itu. Namun, media lokal menduga kemungkinan Mouna Guebla teradikalisasi lewat internet.
Hari Selasa (30/10/2018) kondisi di kota Tunis sudah berangsur normal, meskipun aparat keamanan masih dikerahkan dalam jumlah besar di sekitar lokasi kejadian.
Tunisia memberlakukan status negara dalam keadaan darurat sejak 2015, menyusul serangan bersenjata di Museum Bardo pada bulan Maret yang menewaskan 22 orang, lalu ledakan di kota wisata Sousse pada bulan Juni yang merenggut 38 nyawa, dan peledakan bus pengangkut petugas pengawal presiden yang menewaskan 12 personel keamanan.
Awal Oktober status darurat tersebut diperpanjang sampai 6 November, menjelang pemilu yang akan digelar tahun depan.*