Hidayatullah.com—Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan bahwa permusuhan selama lebih dari 30 tahun antara Iran dan Amerika Serikat ada kemungkinan berubah menjadi persahabatan.
“Tidak ada permusuhan yang abadi, demikian pula tidak ada persahabatan yang abadi. Jadi kita harus mengubah permusuhan menjadi persahabatan,” kata Rouhani ketika ditanya apakah suatu hari Kedutaan Amerika Serikat bisa dibuka kembali di Teheran dan bukan kedutaan AS di Swiss yang mewakili kepentingan Amerika di Iran.
Dalam wawancara dengan stasiun televisi Swiss RTS hari Rabu (22/1/2014) setibanya di Davos untuk menghadiri World Economic Forum, Rouhani mengatakan bahwa hubungan dengan Washington mengalami kesulitan di masa lampau, tetapi dengan kerja keras dari kedua pihak berbagai masalah dapat diatasi.
“Upaya ini perlu untuk menciptakan kepercayaan di antara kedua belah pihak. Iran faktanya mengulurkan tangannya dengan damai dan bersahabat kepada seluruh negara di dunia yang ingin bersahabat, memiliki hubungan baik dengan semua negara di dunia,” kata presiden negeri Syiah yang mengajak tokoh-tokoh Yahudi Iran ke Amerika untuk melobi Washington dalam kunjungannya ke bulan September 2013 sekaligus menghadiri Sidang Umum PBB, tak lama setelah terpilih menggantikan Mahmud Ahmadinejad. Sebagaimana diketahui, lobi kelompok Yahudi di Amerika sangat kuat bahkan ikut mengatur kebijakan Gedung Putih dan parlemen.
Pada pertemuan WEF hari Kamis ini, Rouhani dijadwalkan menyampaikan pidato di hadapan para pejabat perusahaan minyak raksasa dunia seperti Eni, BP, Total dan Shell.
Pimpinan perusahaan minyak asal Amerika Serikat seperti ExxonMobil juga hadir dalam pertemuan itu, menurut sejumlah pejabat dilansir Reuters.
Teheran ingin perusahaan-perusahaan minyak Barat menghidupkan kembali ladang-ladang minyak lamanya dan membangun ladang-ladang minyak dan gas baru, begitu sanksi atas negaranya dicabut. Dan Iran akan memperbaiki kontrak investasi guna menarik minat pengusaha-pengusaha minyak tersebut.
Didorong oleh perjanjian awal kesepakatan nuklir antara Iran dan negara-negara Barat Nopember 2013, pemerintah Teheran dan Big Oil (julukan untuk kelompok perusahaan besar minyak terdiri dari BP, Chevron, ExxonMobil, Shell, Total, serta Conoco-red) tidak buang-buang waktu membuat perjanjian kerja dengan harapan sanksi atas Iran segera dicabut.
Saat ini hasil dari perjanjian awal kesepakatan nuklir tersebut, sebagian sanksi ekonomi atas Iran telah dicabut oleh negara-negara Barat.*