Hidayatullah.com–Waktunya telah tiba bagi rezim Bashar al Assad di Suriah untuk pergi, demikian pejabat Turki mengatakan hari Kamis kemarin setelah serangan kimia mematikan oleh rezim di Ghouta Timur dan distrik Douma, dan Amerika Serikat (AS) bersumpah akan menyerang rezim di Suriah.
“Rezim Assad harus meninggalkan Suriah. Ini bukanlah pertama kalinya rezim Assad menggunakan senjata kimia. Ia telah membunuh sekitar 1 juta orang dengan serangan udara dan bom gentong,” Menlu Mevlüt Çavuşoğlu mengatakan pada sebuah acara yang diselenggarakan oleh Yayasan Penelitian Politik, Ekonomi dan Sosial (SETA) di Ankara dikutip Daily Sabah.
Pada 8 April, organisasi White Helmets di Ghouta Timur menuduh pasukan rezim Suriah melancarkan serangan kimia pada target-target di distrik Douma pinggiran Damaskus yang menyebabkan puluhan penduduk sipil terbunuh.
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) dengan suara bulat mengadopsi sebuah resolusi pada 24 Februari, yang mendesak genjatan senjata selama sebulan penuh di Suriah, khususnya di Ghouta Timur, agar memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan.
Baca: Erdogan: Bashar Pemimpin Teroris, Bunuh Satu Juta Warganya
Meskipun adanya resolusi itu, rezim dan sekutunya pada awal bulan ini melancarkan serangan darat besar-besaran didukung oleh kekuatan udara Rusia untuk menguasai bagian oposisi di Ghouta Timur. “[Assad] harus pergi dari Suriah dan transisi pada proses politik harus dimulai,” tambah Çavuşoğlu.
Dia menambahkan bahwa upaya untuk menciptakan solusi permanen, “seperti proses Astana dan Sochi,” harus dikerjakan secara efektif, dan negara itu harus bersiap untuk Pemilu transparan dalam waktu dekat. “Penting untuk melaksanakan Pemilu yang transparan di bawah atap PBB. Kita tidak ingin lagi melihat darah dan air mata di Suriah,” kata Çavuşoğlu.
Sejak pecahnya perang sipil Suriah pada 2011, pemerintah Turki mengaku telah bersikeras bahwa solusi utama untuk mencapai perdamaian di negara itu ialah dengan melengserkan Bashar Assad dan membangun sebuah lingkungan politik baru yang akan dimediasi oleh PBB dan menjadi entitas inklusif.
Menhan Turki Nurettin Canikli juga mengatakan bahwa pelengseran Assad dan membersihkan Suriah dari kelompok teror merupakan dua syarat yang harus terjadi agar perdamaian dapat berlaku.
“Membersihkan Suriah dari semua kelompok teror dan turunnya rezim. Jika dua parameter ini telah ditetapkan, perdamaian akan telah tercapai, dan tidak satupun dari ini [serangan kimia] akan terjadi,” Canikli mengatakan dalam wawancara yang disiarkan televisi kemarin.
Baca: Tentara Turki Hajar Milisi Bashar al Assad di Lattakiah
Canikli mengatakan baik Rusia dan AS merupakan pihak yang salah di Suriah. “Satu mendukung elemen teror, mendukung PKK/PYD/YPG, dan mereka bertindak bersama di Suriah. Dan satunya lagi mendukung rezim Assad, yang merupakan alasan di balik pembunuhan ratusan ribu rakyat Suriah,” tambahnya.
Turunnya Assad merupakan syarat yang tidak bisa dinegosiasikan bagi Turki dalam merencanakan masa depan Suriah dari sejak awal terjadinya konflik. Namun, dukungan AS pada Pasukan Demokratis Suriah (SDF), yang didominasi oleh afiliasi kelompok teroris PKK seperti, Partai Persatuan Demokratis (PYD), dan sayap bersenjatanya, Unit Perlindungan Rakyat (YPG), membuat pemerintah Turki berfokus pada pemberantasan kelompok tersebut dari Suriah utara.
Meningkatnya pengaruh YPG di Suriah utara memicu militer Turki melancarkan operasi militer ‘Olive Branch‘ (Rantinng Zaitun) pada 20 Januari di provinsi Afrin, Suriah barat laut.
Operasi Afrin, yang dilaksanakan oleh angkatan bersenjata Turki dan angkatan udaranya, serta Tentara Pembebasan Suriah (FSA), juga dikoordinasikan dengan Rusia, pendukung utama rezim Assad. Sementara Rusia memberikan dukungan militer pada Assad, kehadirannya dalam memimpin rezim telah menjadi masalah perselisihan antara Ankara dan Moskow.
Namun, Turki dan Rusia, telah dapat menemukan landasan bersama dalam menciptakan genjatan senjata dan zona de-eskalasi di beberapa bagian Suriah, melalui beberapa pertemuan pemimpin negara seperti perundingan Astana dan Sochi.*>>> (Bersambung)