Hidayatullah.com–Warga yang tinggal dekat lokasi jatuhnya pesawat Boeing 737 MAX 8 milik Ethiopian Airlines turut berduka dengan kematian 157 orang dalam peristiwa itu. Mereka rupanya sudah mengerti sejak lama daerah di sekitar lokasi kejadian mengundang nasib buruk.
Pagi hari tanggal 10 Maret pesawat Boeing 737 MAX 8 Ethiopian Airlines penerbangan 302 jatuh di dekat kota kecil Bishoftu, 62 kilometer arah tenggara dari Bandara Internasional Bole. Penduduk sekitar adalah orang-orang yang pertama kali mendatangi lokasi jatuhnya pesawat. Mereka melihat burung besi itu mengeluarkan asap putih dan suara bising sebelum menukik tajam, jatuh dan hancur berkeping-keping.
Ada sesuatu yang nyaris tidak mendapat perhatian ketika orang menyimak kabar tentang kecelakaan tersebut. Daerah lokasi kejadian dalam bahasa lokal Afaan Oromoo disebut “Tulluu Farraa” yang artinya “nasib buruk”.
“Daerah itu mendapat nama Tulluu Farraa dikarenakan kondisi cuaca di sana,” kata Baatimi Lemma, seorang tetua setempat kepada BBC Kamis (21/3/2019).
Baatimi mengatakan bahwa disebabkan daerah itu terletak di dataran tinggi, sulit untuk mengetahui dengan pasti dari arah mana datangnya angin.
“Orang-orang menyebutnya Tulluu Farraa yang artinya Nasib Buruk, karena tempat tersebut terlalu dingin untuk ditinggali,” papar Baatimi.
Seperti diketahui, dalam dunia penerbangan masalah cuaca, angin, kondisi geografis daerah yang dilintasi mempengaruhi pilot dalam mengemudikan pesawatnya.*