Hidayatullah.com—Para pelancong yang memadati Uluru mengundang kontroversi karena berbondong-bondong memanjat tempat sakral orang asli Australia itu, yang akan ditutup untuk pemanjatan dalam beberapa bulan mendatang.
Foto-foto yang beredar online menunjukkan banyak orang mengular di jalur pemanjatan gundukan raksasa itu. Sebagian warganet membandingkannya dengan “kemacetan” di jalur pendakian Puncak Everest belum lama ini, lansir BBC Kamis (11/7/2019).
Pada tahun 2017, Dewan Taman Nasional Uluru-Kata Tjuta secara bulat memutuskan untuk tidak lagi memperbolehkan pelancong memanjat monolit berwarna merah itu disebabkan arti pentingnya sebagai situs sakral orang Aborigin. Larangan itu akan berlaku efektif bulan Oktober 2019.
Sejak keputusan tersebut diumumkan, pengunjung Uluru –dulu dikenal dengan nama Ayers Rock– semakin bertambah.
Penduduk lokal mengatakan para turis membuang sampah sembarangan di tempat itu dan berkemah secara ilegal di dekatnya.
Glenn Minett, yang memotret kerumunan orang di Uluru pekan ini, mengatakan kepada BBC bahwa kawasan perkemahan di dekatnya penuh sesak hingga ke bagian tepi. Sejumlah turis bahkan nekat berkemah di lokasi pemberhentian truk tidak jauh dari tempat itu.
“Hanya ada satu blok toilet di bagian dasar Uluru dan saluran pembuangannya tersumbat,” kata Minett.
Parks Australia mengatakan Uluru kedatangan 70.000 pengunjung lebih banyak pada tahun 2018 dibanding tahun sebelumnya. Statistik kunjungan selama beberapa bulan terakhir belum tersedia.
Pimpinan eksekutif Tourism Central Australia Stephen Schwer mengatakan kepada ABC bahwa banjir turis di Uluru justru menambah jumlah sampah.
“[Para pengunjung] mengira mereka melakukan kebaikan dengan berkemah sesukanya di sepanjang jalan. Namun, yang mereka sesungguhnya lakukan adalah menerobos lahan pengembalaan dan kawasan lindung yang dikelola bersama, dan sepertinya banyak orang tidak menyadari [kesalahan] mereka,” kata Schwer.
“Itu adalah tempat yang sangat penting, bukan taman bermain seperti Disneyland,” kata Sammy Wilson, pria suku Anangu yang juga ketua Dewan Taman Nasional Uluru-Kata Tjuta ketika mengumumkan keputusan larangan memanjat Uluru pada tahun 2017. Suku Anangu merupakan suku yang diberi amanat sebagai penjaga tanah sakral di kawasan Uluru, yang menurut kepercayaan orang-orang asli Australia merupakan tempat bersemayamnya roh nenek moyang mereka.
Banyak warganet yang mengecam kelakuan para pelancong Uluru.
“Bisakah kalian bayangkan jika banyak orang mulai memanjati Australian War Memorial,” kata pengguna Twitter bernama Sally Rugg, mengecam kelakuan turis yang tidak menghormati kesakralan Uluru.*