Hidayatullah.com—Sejumlah lulusan bidang kriminologi dari Jordan Unversity of Science and Technology (JUST) pada hari Rabu (13/5/2015) membakar ijazah-ijazah mereka di kampus guna menyoroti masalah kurangnya lapangan pekerjaan di bidangnya.
Para pengunjuk rasa lulus sekitar tiga tahun lalu, tetapi hingga kini belum mendapatkan pekerjaan, kata seorang lulusan kriminologi bernama Mahmoud Jumaa.
“Universitas membuka jurusan ini tanpa mempertimbangkan … peluang di pasar [tenaga kerja],” kata Jumaa kepada Jordan Times.
Rektor JUST Ahmad Elbetieha mengatakan pihak universitas berusaha mencarikan pekerjaan bagi para lulusan sesuai bidangnya.
“Hanya saja butuh waktu,” untuk mengkoordinasikan semua pihak yang terlibat sekaligus, kata Elbetieha.
Menurut rektor JUST jurusan kriminologi dibuka setelah dilakukannya riset dan melihat adanya peluang besar di pasar kerja. Tetapi kemudian terjadi perubahan yang tidak terduga, di mana pekerjaan untuk bidang kriminologi di Yordania tidak banyak tersedia.
“Jumlah lulusannya tidak melebihi 400. Tetapi kami bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan untuk memberikan mereka pekerjaan sebagai guru sekolah,” Elbetieha menambahkan.
Namun menurut Jumaa, universitas yang berpusat di kota Ramtha itu tidak cukup berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Departemen Keamanan Publik dan laboratorium-laboratorium forensik.
“Bahkan ketika kami melamar pekerjaan di rumah sakit, kami tidak bisa bekerja sebab tidak memiliki lisensi untuk praktek profesi,” kata Jumaa.
Jumaa sendiri lulus sejak empat tahun silam. Oleh karena tidak kunjung mendapatkan pekerjaan dia lantas melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2 di bidang biologi terapan.
JUST menawarkan para mahasiswa kriminologi untuk pindah jurusan, karena jarangnya lapangan pekerjaan di bidang itu, kata Jumaa.
“Banyak orang yang belajar kriminologi tetapi bekerja di bidang yang sama sekali berbeda, seperti marketing dan sales,” imbuhnya.
Baker Nassar, lulusan tahun 2013, mengatakan para mahasiswa hanya minta mereka diberikan lisensi untuk praktek profesi.
Menurut Naser, manajemen JUST menyarankan agar lulusan kriminologi bekerja di negara-negara Teluk. Akan tetapi, perusahaan-perusahaan di sana juga meminta lulusan yang memiliki lisensi praktek profesi dan pengalaman di bidangnya.
Lebih lanjut pemuda berusia 27 tahun itu mengatakan bahwa tawaran untuk pindah jurusan bagi mahasiswa kriminologi JUST hanya diberikan pada tahun 2014.
“Membakar ijazah bukan hal yang mudah untuk dilakukan, terutama karena itu merupakan bukti hasil kerja keras Anda selama empat tahun. Tetapi ini demi menunjukkan kepada pihak universitas dan pemerintah bahwa kami sudah muak,” tegas Nassar.*