Hidayatullah.com–Ratusan ribu orang demonstran pro-demokrasi hari Ahad (18/8/2019) berkumpul di Victoria Park dan sekitarnya dengan damai, setelah sebelumnya bentrok dengan petugas kepolisian.
Meskipun hujan deras, para demonstran yang sudah menyiapkan payung memenuhi jalan sepanjang 5 kilometer sebab taman di pusat kota Hong Kong itu tidak muat menampung pengunjuk rasa.
“Hari ini adalah hari damai,” kata panitia unjuk rasa Bonnie Leung. “Kami dapat menunjukkan kepada dunia bahwa orang Hong Kong bisa tenang sama sekali.”
Aktivis wanita itu juga mengatakan bahwa polisi yang patut dipersalahkan apabila terjadi kerusuhan.
Tidak hanya anak muda, orang-orang tua dan anak-anak hadir dalam unjuk rasa di taman umum paling terkenal di Hong Kong itu.
Polisi sudah mengeluarkan izin untuk kerumunan tersebut, tetapi tidak untuk aksi jalan kaki yang menyertainya.
Meskipun demikian, banyak demonstran yang memadati jalan-jalan di pusat kota, dan mereka mengatakan bertekad menunjukkan kepada pemerintah bahwa mereka tidak akan berhenti melakukan aksi sampai tuntutan-tuntutannya dipenuhi, lansir DW.
“Kami akan berdiri di sini; kami akan melakukan aksi, sampai mereka menanggapi kami… Bersama kami lebih memiliki kekuatan,” kata Harley Ho, seorang mahasiswa berusia 20 tahun, tak gentar dengan hujan deras.
Aksi unjuk rasa damai itu digelar setelah beberapa demonstrasi sebelumnya senantiasa diwarnai bentrokan dengan polisi. Aksi damai itu juga diselenggarakan setelah banyak kabar menyebutkan –termasuk cuitan Presiden AS Donald Trump di Twitter yang mengutip keterangan intelijen– bahwa pasukan China sudah bersiap di perbatasan dengan Hong Kong, bersiaga kalau-kalau para pengunjuk rasa anti-pemerintah dan pro-demokrasi bertindak brutal.
Menanggapi kabar tentang pasukan China itu, Kepolisian Hong Kong dalam konferensi pers mengatakan bahwa mereka masih bisa dan sanggup menangani unjuk rasa dan belum membutuhkan bantuan dari China Daratan.
Banyak kalangan menilai Hong Kong akan “tamat riwayatnya” apabila pasukan keamanan China menjejakkan kakinya di wilayah otonomi bekas koloni Inggris itu.
Pemerintah Hong Kong membela tindakan keras yang diambil polisi terhadap demonstran dalam aksi-aksi unjuk rasa sebelumnya.
“Hanya ketika mereka diserang dengan kekerasan dan tidak ada pilihan lain polisi menggunakan kekuatan minimum untuk menghalau pengunjuk rasa guna mengembalikan ketertiban umum,” kata pemerintah Hong Kong dalam sebuah pernyataan.
Pemerintah juga mengatakan 180 petugas kepolisian terluka dalam aksi-aksi unjuk rasa terakhir dan petugas mengalami tekanan sangat kuat, disebabkan durasi pekerjaan yang panjang, karena harus terus bersiaga menjaga ketertiban dan keamanan kota sementara Hong Kong terus dilanda aksi yang melibatkan ribuan orang.*