Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Erdogan Sebut Tindakan Mesir di Libya ‘Ilegal’

Rofi' Munawwar
Terakhir diupdate: 18 Juli 2020 18:27 6:27 pm
Rofi' Munawwar
Dipublikasikan 18 Juli 2020 18:26
Bagikan
Tentara Mesir
Bagikan

Hidayatullah.com–Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam Mesir dan Uni Emirat Arab (UEA) karena mendukung entitas militer yang bermarkas di Libya timur, setelah Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi bertemu dengan suku Libya yang meminta Kairo untuk ikut turun dalam konflik negara itu lapor Al Jazeera pada 18 Juli 2020.

Turki telah memberikan bantuan militer kepada pemerintah yang diakui PBB dalam konflik Libya, sementara Mesir, UEA dan Rusia telah mendukung musuh di pemerintahan saingan di timur.

Beberapa pekan ini telah menyaksikan kemajuan militer dramatis oleh Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) berbasis di Tripoli, yang mengusir pasukan komandan militer Khalifa Haftar yang telah melancarkan serangan ke Tripoli pada tahun lalu.

Suku yang mengelola timur pada pekan ini meminta Mesir untuk ikut campur dalam konflik. El-Sisi bertemu suku Libya pada Kamis dan mengatakan Mesir tidak akan diam dalam menghadapi ancaman langsung terhadap keamanan Mesir dan Libya.

Ditanya tentang kemungkinan intervensi Mesir, Erdogan mengatakan pada Jumat Turki akan mempertahankan dukungannya untuk GNA.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

“Langkah-langkah yang diambil Mesir di sini, terutama berpihak pada pemberontak Haftar, menunjukkan mereka berada dalam proses ilegal,” katanya. Dia juga menyebut pendekatan UEA sebagai “pembajakan”.

Pada bulan lalu, El-Sisi mengatakan tentara Mesir mungkin memasuki Libya jika pemerintah Tripoli dan sekutu Turkinya memperbarui serangan terhadap garis depan Sirte-Jufrah, yang dipandang sebagai pintu gerbang ke terminal ekspor utama Libya, yang sekarang dikuasai sekutu Haftar.

Libya telah terperosok ke dalam konflik sejak 2011, ketika penguasa lama Muammar Gaddafi digulingkan dalam sebuah operasi militer didukung NATO.

Embargo senjata

Sementara itu, kementrian luar negeri Prancis pada Jumat membantah pernyataan AS bahwa misi angkatan laut Uni Eropa untuk menegakkan embargo senjata PBB atas Libya adalah bias dan tidak serius, mengatakan Washington harus melakukan lebih banyak tindakan untuk menghentikan aliran senjata ke negara-negara Afrika Utara.

David Schenker, asisten sekretaris untuk Urusan Timur Dekat di Departemen Luar Negeri AS, mengatakan pada hari Kamis Eropa harus melampaui pembatasan larangan pasokan senjata ke Turki dengan menunjuk kontraktor militer Rusia Wagner Group dan memanggil Moskow dan negara-negara lain seperti UEA dan Mesir masalah ini.

Menanggapi komentar Schenker, juru bicara Kementerian Luar Negeri Perancis Agnes von der Muhll mengatakan kepada wartawan: “Kami meminta semua mitra kami – mulai dengan Amerika Serikat – untuk meningkatkan tindakan mereka, seperti yang dilakukan Uni Eropa, untuk mencegah pelanggaran berulang terhadap embargo senjata dan untuk membantu meluncurkan kembali proses politik yang inklusif. ”

Turki telah melakukan intervensi secara tegas dalam beberapa pekan terakhir di Libya, memberikan dukungan udara, senjata dan pejuang sekutu dari Suriah untuk membantu GNA menahan serangan selama setahun oleh Haftar.

Turki menuduh Prancis mendukung Haftar secara politik, setelah sebelumnya memberinya bantuan militer untuk memerangi kelompok-kelompok bersenjata.

Prancis menyangkal hal ini, tetapi hubungan antara kedua sekutu NATO telah menjadi runyam dengan Paris berulang kali mengecam Ankara atas perannya di Libya, sementara tidak pernah secara terbuka mengkritik Mesir atau UEA karena peran mereka.

“Perancis secara aktif berpartisipasi dalam operasi penting ini dalam konteks meningkatnya campur tangan asing dalam konflik Libya, yang telah kami kutuk dengan bahasa terkuat,” kata Von der Muhll.

PBB sebelumnya mengutip UEA, Mesir dan Turki karena melanggar embargo.

Jerman juga menekankan pada hari Jumat perlunya menegakkan embargo senjata Libya setelah pernyataan terbaru el-Sisi.

Berbicara pada jumpa pers reguler di Berlin, Christofer Burger, seorang wakil juru bicara Kementerian Luar Negeri, menjelaskan bahwa embargo senjata Libya “diterapkan ke semua pihak”.

Diplomat Jerman itu menyerukan “penghentian segera” dukungan militer asing bagi pihak-pihak yang berkonflik.*

Redaktur: Rofi' Munawwar
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:LibyaMesirTurkiUni Emirat Arab
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Komisi X: Pembelajaran Jarak Jauh Masih Menyisakan Masalah
Tulisan selanjutnya Masjid Amerika Arsitek Turki Menemukan 329 Bangunan Peninggalan Utsmani yang Diubah Menjadi Gereja

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Berita
3 Juni 2026 13:30
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?