Hidayatullah.com—Maszlee Malik, politisi Malaysia yang baru saja mengundurkan diri dari jabatan menteri pendidikan, dikabarkan meninggalkan jabatannya karena didesak oleh Perdana Menteri Mahathir Mohamad sebab tidak mengikuti perintah kabinet.
Situs berita The Malaysian Insight (TMI) melaporkan bahwa sebuah surat sepanjang 17 paragraf yang dipegangnya, menunjukkan bahwa Dr. Maszlee tidak mendengarkan masukan dan dalam beberapa kesempatan menentangan keputusan Kabinet.
Surat tersebut kabarnya dikirimkan ke kantor Maszlee pada 27 Desember 2019 dan ditulis oleh PM Mahathir Mohammad.
Menurut TMI, surat itu membeberkan beberapa kegagalan Maszlee, yaitu bahwa dia tidak mengikuti saran dalam masalah pembelajaran Jawi (aksara Arab-Melayu), internet gratis untuk sekolah dan program sarapan gratis bagi para pelajar.
Surat itu juga menyoroti sikap Maszlee yang menentang pemisahan antara portofolio pendidikan dan pendidikan tinggi.
Sikap-sikap itu akhirnya mendorong PM Mahathir meminta Maszlee agar “menarik diri dari Kabinet”.
Maszlee, yang merupakan wakil rakyat dari daerah pemilihan Simpang Renggam, memicu kontroversi berkepanjangan di Malaysia dengan keputusannya untuk menjadikan kaligrafi Jawi sebagai salah satu bidang studi yang harus diajarkan di sekolah-sekolah Malaysia, termasuk sekolah-sekolah berbahasa non-Melayu dan sekolah berlatar belakang non-Islam. Kebijakan ini ditentang keras oleh politisi-politisi non-Muslim Malaysia serta partai-partai berlatar non-Islam, etnis China dan India, yang merupakan bagian dari koalisi Pakatan Harapan pimpinan PM Mahathir.
Maszlee mengundurkan diri dari jabatan menteri pendidikan hari Kamis (2/1/2020), dan pengunduran dirinya itu berlaku efektif hari Jumat (3/1/2020).
Sementara itu The Star melaporkan bahwa Maszlee Malik mengatakan tidak sakit hati kepada PM Mahathir yang menyuruhnya mundur sebagai menteri pendidikan. Dia mengatakan Mahathir sebagai PM memiliki hak prerogratif untuk menarik kembali amanat menteri yang diberikan kepada seseorang sebagaimana dinyatakan dalam konstitusi.
“Saya bertemu dengan Dr. Mahathir di kantornya di mana dia memberikan nasihat kebapakan, beliau mengatakan bahwa saya telah melakukan pekerjaan luar biasa selama 20 jabatan saya sebagai menteri pendidikan,” kata Maszlee dalam pidatonya di acara pertemuan anggota parlemen dengan rakyat yang diselenggarakan kantornya hari Sabtu (4/1/2020) di Simpang Renggam, seraya menegaskan bahwa dirinya tidak pernah melobi Mahathir untuk memberikan jabatan menteri kepadanya.
Lebih lanjut politisi Partai Pribumi Bersatu Malaysia itu berkata, “Saya tidak pernah lebih bahagia dari ini dalam hidup” setelah melepas jabatan menteri.
“Saya kira apa yang terjadi pada saya merupakan berkah tersembunyi,” imbuh Maszlee, yang mengetahui ada petisi online dari rakyat yang didukung lebih dari sejuta tanda tangan yang menuntut dirinya ditempatkan kembali sebagai menteri pendidikan.*