Hidayatullah.com–Pemerintah Inggris akan meluncurkan “global talent visa” pada 20 Februari 2020 untuk menarik minat peneliti dan pakar matematika datang ke Inggris, tanpa ada batasan berapa banyak orang yang akan diteima.
Selain itu, Perdana Menteri Boris Johnson mengatakan akan ada paket £300 juta untuk penelitian bidang matematika tingkat lanjut. Alokasi itu akan melipatgandakan pendanaan untuk PhD baru dan menambah jumlah fellowship di bidang matematika dan proyek-proyek riset.
“Seiring dengan akan keluarnya kami dari Uni Eropa, saya ingin mengirimkan pesan bahwa Inggris terbuka bagi orang-orang yang sangat bertalenta di dunia, dan siap menyokong mereka untuk mewujudkan ide-idenya menjadi kenyataan,” kata Johnson seperti dikutip The Guardian Ahad (26/1/2020).
Visa jalur cepat ini merupakan pengganti “Tier 1 Exceptional Talent Visa”, yang mana orang-orang asing bisa memperoleh visa dengan endorsement dari Royal Society, Royal Academy of Engineering, British Academy, Tech Nation atau Arts Council England.
Aplikasi visa itu dulu dipatok hanya 2.000 pertahun, tetapi tidak pernah mencapai jumlah tersebut. Di bawah skema baru ini, lembaga pendanaan UK Research and Innovation juga akan bisa mengeluarkan rekomendasi bagi pemohon visa.
Pemohon visa tersebut tidak perlu memiliki tawaran pekerjaan sebelum datang ke Inggris, dan akan ada proses cepat untuk penyediaan tempat tinggal bagi semua ilmuwan dan peneliti pemegang rekomendasi atau endorsement.
Akan tetapi kebijakan PM Boris Johnson ini dianggap sekedar “iming-iming pemasaran” oleh politisi jubir Partai Liberal Demokrat Christine Jardine.
“Boris Johnson menunjukkan bahwa pada dasarnya dia tidak memahami apa yang membuat sektor sains kita begitu sukses. Mengubah nama visa dan mencabut batasan jumlah aplikasi tidak akan pernah berhasil, ini bukan sebuah yang rencana sungguh-sungguh,” kata Jardine.
Salah satu kekhawatiran dampak hengkangnya Inggris dari Uni Eropa adalah negara itu tidak lagi diminati oleh para cerdik pandai dari seluruh dunia, sehingga kerajaan itu akan tertinggal jauh dari negara-negara maju tetangga mereka di daratan Eropa dan terisolasi dari kemajuan global.*