Hidayatullah.com—Direktur salah satu rumah sakit terkemuka hari Jumat (28/3/2020) diculik, sehingga para staf menolak untuk menangani pasien baru, sementara negara miskin itu sedang menghadapi wabah coronavirus di tengah meningkatnya kekerasan oleh geng-geng kriminalitas.
Dr. Jerry Bitar, seorang ahli bedah, diculik tak lama setelah keluar dari rumahnya di kawasan elit ibu kota Port-au-Prince saat menuju tempat kerjanya di RS Bernard Mevs, kata staf rumah sakit kepada Reuters.
Penculikan dengan tujuan mendapatkan uang tebusan meningkat tajam tahun ini, di tengah krisis politik dan ekonomi di Haiti, yang menurut Bank Dunia merupakan negara termiskin di belahan Barat muka bumi ini. Pada bulan Januari saja terjadi 15 kasus penculikan. Kelompok-kelompok penculik sepertinya tidak pandang bulu memilih korbannya, bervariasi mulai dari anak sekolah, anggota parlemen, pengusaha hingga sukarelawan asing.
Kerumunan orang berkumpul di luar bangunan rumah sakit untuk menunjukkan solidaritas kepada Bitar, yang menjalankan rumah sakit itu bersama saudara kembarnya. Para staf menyeru agar dokter itu segera dibebaskan. Media Haiti juga meminta agar para bandit segera melepaskan Bitar.
“Di masa pandemi coronavirus ini, sangat tidak lazim menculik dokter rumah sakit,” kata Jean Wilguens Charles, seorang warga setempat yang beberapa temannya pernah dirawat di rumah sakit Bitar. “Kami menuntut pembebasannya tanpa syarat.”
Asisten medis Claude Devil mengatakan rumah sakit itu banyak menerima pasien warga Haiti dari semua kalangan, termasuk mereka yang tidak mampu membayar. Namun, karena kasus penculikan ini sekarang tidak akan mengambil pasien baru sementara pasien yang sudah ada akan dirawat sebaik mungkin.
“Ada beberapa pasien yang menunggu operasi, tetapi kami tidak dapat melakukannya tanpa ada perintah dari dokter,” kata Devil.
Bernard Mevs merupakan rumah sakit untuk merawat pasien trauma dan kritis, dan saat ini tidak menangani pasien coronavirus. Namun, nantinya rumah sakit itu kemungkinan ada diperlukan apabila wabah Covid-19 terus meluas di Haiti.
Menurut studi tahun 2019 oleh Research and Education consortium for Acute Care in Haiti (REACH), Haiti hanya memiliki 64 ventilator untuk populasi sekitar 11 juta. Padahal untuk menangani wabah coronavirus saat ini, salah satu alat medis yang paling dibutuhkan adalah ventilator.
Pihak otoritas Haiti sejauh ini mengkonfirmasi 8 kasus coronavirus. Presiden Jovenel Moise pekan lalu menyatakan negara dalam keadaan darurat, memerintahkan penutupan sekolah-sekolah, pabrik dan rumah ibadah guna meredam penyebaran virus, menutup perbatasan dengan negara tetangga dan memberlakukan jam malam.*