Hidayatullah.com—Kepolisian Spanyol menangkap seorang pria yang dituduh melakukan lebih dari 100 pengguguran kandungan paksa atas para wanita pelaga (fighters) dari kelompok pemberontak bersenjata di Kolombia, Farc.
Pria tersebut, Hector Arboleda Albeidis Buitrago, diketahui bekerja sebagai perawat di Madrid, kata pihak berwenang.
Kolombia berusaha agar Albeidis Buitrago diekstradisi ke negaranya.
Dilansir BBC, hari Jumat (11/12/2015) Kolombia mengumumkan penyelidikan sedikitnya 150 kasus aborsi paksa atas wanita-wanita anggota kelompok pemberontak bersenjata Farc, yang melaporkan bahwa mereka dipaksa untuk menggugurkan kandungannya.
Albeidis Buitrago, dikenal dengan sebutan “Si Perawat”, dituding terlibat dalam banyak kasus aborsi paksa itu.
Kepada para reporter Jaksa Agung Eduardo Montealegre hari Jumat mengatakan bahwa para pelaga wanita kelompok Farc diwajibkan melakukan aborsi agar tidak mengganggu kemampuan bertempur mereka.
“Kami memiliki bukti-bukti yang menunjukkan aborsi paksa itu adalah kebijakan Farc, yang memaksa pelaga wanita menggugurkan kandungan supaya kelompok itu tidak kehilangan alat perangnya,” kata Montealegre.
Pemberontak bersenjata sayap kanan itu dulu pernah membantah tuduhan tersebut, dengan mengatakan bahwa mereka menyediakan alat kontrasepsi.
Seorang wanita yang keluar dari Farc kepada koresponden BBC di Bogota mengatakan bahwa dirinya dipaksa melakukan aborsi lima kali.
Wanita-wanita dalam kelompok pemberontak itu disuruh ikut bertempur atau menjadi pelayan para lelaki, kata bekas anggota Farc itu kepada BBC.
Wanita pelaga anggota Farc yang diperbolehkan mengandung dan melahirkan anaknya merasa sangat beruntung.
Farc selama 50 tahun terakhir melakukan pemberontakan di Kolombia. Perundingan damai di Kuba yang digelar sejak 2012 menunjukkan tanda kemajuan. Beberapa kesepakatan telah dicapai antara Farc dengan pemerintah Kolombia, termasuk bagaimana sistem hukum menangani kasus kriminal yang dilakukan oleh anggota Farc.
Negosiator wakil pemerintah Kolombia dan Farc berharap perjanjian final dari kesepakatan damai itu dapat ditandatangani pada Maret 2016.
Farc didirikan tahun 1964 dengan tujuan mendirikan rezim marxisme di Kolombia, dan berhasil menguasai wilayah seluas negara Swiss.
Namun, belakangan kelompok pemberontak bersenjata itu mengalami kemunduran, serta terlibat dalam perdagangan dan penyelundupan narkoba.
Lebih dari 220.000 orang tewas akibat konflik yang ditimbulkan oleh gerakan pemberontakan Farc, kebanyakan korban adalah warga sipil.*