Hidayatullah.com—Pemerintah negara bagian Queensland, Australia, meminta maaf kepada keluarga mendiang seorang pria berusia 30 tahun yang pekan lalu keliru dinyatakan wafat karena Covid-19.
Saat kematiannya Nathan Turner, yang takluk dengan komplikasi penyakit yang dideritanya, dicatat sebagai korban termuda Covid-19 di Australia.
Akibatnya muncul kepanikan di sebuah kota kecil pertambangan, Blackwater, dan warga di sana diperiksa apakah juga ada yang terlular Covid-19. Petugas dibuat sibuk mencari asal mula penularan terhadap Nathan Turner, pasalnya di kota itu sebelumnya tidak ada kabar orang yang terpapar coronavirus.
Sekarang, pihak berwenang mengatakan bahwa diagnosis terhadap pemuda itu salah. Turner awalnya dinyatakan positif Covid-19 setelah kematiannya, tetapi pemeriksaan lanjutan justru menegaskan dia tidak terjangkit coronavirus.
Penduduk marah, dalam petisi online mereka menyatakan bahwa diagnosis yang keliru itu telah memicu emosi, trauma fisik dan mental bagi mereka.
Aparat negara bagian membela tindakan aksi cepat atas diagnosis positif pasien, tetapi mereka juga meminta maaf kepada pihak keluarga Turner.
“Kalian tahu saya sangat ingin mengatakan kepada pihak keluarga bahwa kami sungguh sangat menyesal atas apa yang terjadi,” kata kepala wilayah negara bagian Queensland Annastacia Palaszczuk, seperti dilansir BBC Senin (1/6/2020).
“Kepada keluarga yang saya tahu masih berduka dan saya tidak ingin mereka mengalami stres lagi, saya memahami bahwa saat ini merupakan waktu yang sulit bagi mereka, tetapi kami mengetahui bahwa pihak koroner menyampaikan temuan itu kemarin dan kami menerima temuan tersebut,” kata Palaszczuk merujuk koreksi diagnosis Covid-19 Turner dari positif ke negatif.
Dengan demikian angka kematian Covid-19 di Australia dikoreksi menjadi 102. Sekitar 90% dari 7.200 orang yang dikonfirmasi positif coronavirus di negara itu dinyatakan sudah sembuh.*