Hidayatullah.com—Seorang mahasiswa Inggris yang pergi ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok ISIS alias Daesh dikabarkan meninggal dunia di dalam sebuah penjara di Suriah.
Ishak Mostefaoui, 27, yang pergi ke Suriah pada tahun 2014 telah dicabut status kewarganegaraannya oleh Inggris. Dia dikabarkan tewas saat berusaha melarikan diri dari penjara atau di tengah-tengah kerusuhan yang terjadi di sebuah penjara di Hassakeh, yang menampung anggota ISIS dari seluruh dunia, lansir The Guardian Sabtu (11/7/2020).
Setelah ditangkap tahun lalu, Mostefaoui ditahan di sebuah penjara di bagian timur laut Suriah yang dikelola oleh pasukan Kurdi-Suriah dukungan Amerika Serikat, Syrian Democratic Forces (SDF). Dia merupakan warga Inggris suporter ISIS pertama yang mati di penjara, menurut laporan BBC. Berbagai laporan menyebutkan dia satu dari 10 pria dan 30 wanita Inggris yang ditahan oleh milisi Kurdi tersebut.
Selain Mostefaoui ada sampai 9 orang mahasiswa University of Westminster yang bergabung dengan ISIS. Ayahnya, Abderrahmane, mengatakan keluarganya pindah ke London dari Aljazair ketika putranya itu berusia 5 tahun dan sementara keluarganya menentang ekstrimisme Mostefaoui terpengaruh paham radikal oleh orang-orang di kampusnya.
Mostefaoui dikenal sebagai seorang pemuda penyuka sepakbola sebelum pada tahun 2014 mengatakan akan pergi ke Amsterdam selama beberapa hari. Keluarganya tidak mendengar kabar apapun selama sebulan sampai akhirnya dia menelepon dari Suriah untuk memberitahukan mereka keberadaannya. Mendengar kabar putranya sudah berada di Suriah, ayahnya itu langsung pingsan.
Pada Januari 2019, istri Mostefaoui dan putranya yang masih bayi meninggal dunia dan dia sendiri terluka parah ketika rumahnya dibom.
Kementerian Luar Negeri Inggris mengeluarkan peringatan kepada warganya agar tidak pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Seorang jubir kementerian mengatakan kepada BBC bahwa mereka yang nekat berangkat dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan nasional.
Laporan kementerian-kementerian Inggris menyebutkan sekitar 900 orang meninggalkan Inggris untuk bergabung dengan berbagai kelompok bersenjata Muslim di Suriah, sebanyak 20% di antara mereka sudah tewas, 40% sudah kembali ke Inggris dan sisanya 40% masih berada di kawasan konflik itu.*