Hidayatullah.com—Ratu Elizabeth II tidak akan menyetujui penunjukan Pangeran Charles sebagai gubernur jenderal Australia setidaknya sampai dia memiliki istri, demikian menurut dokumen lawas Australia yang baru dipublikasikan belum lama ini.
Pembicaraan tentang kemungkinan pengangkatan Pangeran Charles itu, menyusul pembubaran pemerintahan pimpinan PM Australia Gough Whitlam tahun 1975, dibahas oleh sekretaris pribadi Ratu Inggris, Sir Martin Charteris, dalam sebuah surat tahun 1976 yang ditujukan kepada gubernur jenderal Australia kala itu Sir John Kerr.
“Menurut saya satu poin yang kita semua harus ingat adalah saya tidak yakin Ratu akan merestui Pangeran Charles menjadi gubernur jenderal Australia sampai dia memasuki kehidupan mapan pernikahan,” tulis Charteris seperti dilansir The Guardian Selasa (14/7/2020).
“Tak seorang pun yang lebih mengetahui dari Anda betapa pentingnya bagi seorang gubernur jenderal untuk memiliki seorang wanita pendamping di sisinya dalam mengemban tugas-tugasnya. Dengan demikian, prospek bagi Prince of Wales untuk menjadi gubernur jenderal Australia masih belum tampak dalam waktu dekat ini,” tulis Charteris.
Dalam sebuah surat lanjutan Charteris berkata, “Selain pertimbangan kehidupan mapan pernikahan, seperti yang telah saya sebutkan dalam surat sebelumnya, akan sangat sulit bagi Pangeran Charles untuk menjadi gubernur jenderal sampai masalah-masalah konstitusional dipecahkan.”
Pangeran Charles menikahi seorang wanita cantik dari keluarga besar bangsawan Inggris Lady Diana Spencer lima tahun kemudian, pada 1981.
Rencana putra sulung Ratu Elizabeth II itu untuk membeli properti di negara bagian New South Wales pada tahun 1974 juga dibatalkan dengan alasan “waktunya tidak tepat”, mengingat Inggris ketika itu sedang mengalami masalah perekonomian.
“Mengenai hal yang berkaitan dengan pembelian properti di Australia oleh Prince of Wales bukanlah merupakan masalah baik dari sisi politik maupun legal bagi Kerajaan Inggris. Sepengetahuan saya demikian pula halnya bagi Australia. Itu merupakan proyek yang sangat diidamkan Pangeran Charles, dan salah satu yang akan, saya yakin, sangat berharga dalam konteks monarki di Australia,” tulis Charteris.
“Akan tetapi, rasanya, masyarakat di negeri ini akan salah memahami keputusan Prince of Wales untuk membeli sebuah properti di kala kesulitan ekonomi yang besar sedang melanda Kerajaan Inggris dan ketika perumahan merupakan masalah terburuk yang dihadapi rakyat kebanyakan,” imbuhnya.
“Di masa modern tidak pernah ada ‘waktu yang baik’ bagi anggota keluarga kerajaan untuk membelanjakan uang, kalau bisa saya katakan ini mungkin waktu yang terburuk,” kata Charteris, tentang pembelian properti oleh seorang pangeran ketika negerinya menghadapi krisis ekonomi.*