Hidayatullah.com—Kenya sejak lama bergulat mengatasi tingginya kehamilan di kalangan remaja. Namun, menurut organisasi Save the Children angkanya turun dari 82 per 1.000 remaja putri usia 15-19 tahun pada 2016 menjadi 71 per 1.000 pada 2017.
Dilansir The Guardian Senin (3/8/2020), bulan lalu angka yang dibocorkan dari dokumen Kementerian Kesehatan menunjukkan ribuan remaja putri hamil selama kebijakan lockdown Covid-19 diberlakukan antara bulan Maret dan Mei, sehingga memicu perdebatan sengit di media sosial.
Di Nairobi saja hampir 5.000 remaja putri hamil, dan dari jumlah itu yang berusia 10-14 tahun sebanyak 500 lebih sedikit, menurut data dari dokumen kementerian yang bocor tersebut.
Evelyne Opondo, direktur senior regional Afrika di Centre for Reproductive Rights, meyakini angka tersebut hanyalah puncak gunung es.
Menurut Opondo, peningkatan kasus kehamilan di kalangan remaja semasa lockdown dikarenakan mereka tidak banyak memiliki aktivitas di rumah, atau “terlibat dalam suatu hubungan demi bertahan hidup”.
Sebagaimana diketahui, anak-anak di Kenya mendapatkan makanan gratis atau pembalut gratis di sekolah, yang selama pandemi tutup setidaknya sampai 2021. Bantuan itu tidak mereka dapatkan selama sekolah ditutup.
Keberadaan mereka di rumah selama pandemi juga berarti menambah beban orangtua, yang mungkin kehilangan pekerjaan akibat roda perekonomian nyaris terhenti selama lockdown.
“Maka jadilah anak-anak perempuan berpaling kepada kaum pria dewasa yang bisa memberikan mereka uang saku, uang untuk membeli pembalut,” kata Opondo.
“Kita sudah menyaksikan fenomena itu bahkan sebelum virus muncul, jadi bisa Anda bayangkan betapa memburuknya keadaan itu,” imbuhnya.*