Hidayatullah.com— Warga Yordania telah meluncurkan kampanye online untuk mendukung dua tokoh terkenal yang mengalami pembalasan atas kritik terhadap Uni Emirat Arab. Tagar #Prince_Ali_represents_me atau #Pangeran_Ali_mewakili_saya menjadi trending di Twitter pada Kamis menanggapi serangan online terhadap Pangeran Ali bin Hussein karena ciutan tentang artikel yang diunggahnya mengkritik kesepakatan normalisasi UEA-‘Israel’.
Ciutan yang sekarang dihapus itu memuat foto poster Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohammed bin Zayed dengan kata “pengkhianat” tertulis di atasnya. Sehari sebelumnya, tagar #Freedom_For_Emad_Hajjaj membanjiri media sosial Yordania, dengan sejumlah jurnalis, aktivis, dan warga yang mengutuk penangkapan kartunis politik Hajjaj lapor Al Araby (01/09/2020).
Seniman itu, yang karyanya dimuat di Al Araby Al Jadeed, akan diadili oleh Pengadilan Keamanan Negara dengan tuduhan “menyinggung negara Arab”. Banyak yang berspekulasi bahwa negara Arab yang dimaksud adalah UEA, setelah Hajjah membuat gambar satir tentang kesepakatan normalisasi.
Ciutan Pangeran Ali memicu reaksi keras online yang dipimpin oleh akun-akun Twitter yang berhubungan dengan Emirat. Satu akun bercentang biru mengklaim bahwa perilaku Ali disebabkan oleh masalah kesehatan dan kecanduan narkoba.
Artikel tersebut, sebuah opini yang ditulis oleh akademisi Avi Shlaim di Middle East Eye (MEE), berjudul “Kesepakatan UEA-Israel: Terobosan atau Pengkhianatan?”. Artikel mengatakan Emirat pergi mengkhianati Palestina untuk mencapai kesepakatan normalisasi dengan ‘Israel’, dan menyebutnya “kemunafikan” bagi UEA untuk mengklaim itu bertindak demi kepentingan Palestina.
Situs berita Yordania Al-Urdunyya mengklaim ciutan Pangeran Ali menyebabkan ketegangan tingkat tinggi antara kedua negara, memaksa Yordania untuk menghubungi UEA dan menegaskan bahwa artikel itu tidak mewakili sikap resminya. Al-Urdunyya juga mengklaim bahwa Raja Yordania Abdullah secara pribadi meminta Pangeran Ali untuk menghapus tweet tersebut.
Namun, reaksi tersebut memicu gelombang dukungan terhadap pandangan Pangeran Ali, menyebabkan tagar solidaritas menjadi trending topic nomor satu di negara tersebut. Jurnalis Yordania Yasser Abu Hilala menulis kedua tagar tersebut di ciutannya, menambahkan: “Rakyat Yordania menentang normalisasi dan mereka akan terus [berada di pihak] Palestina. Apakah kalian mengerti pesan itu, orang Emirat? Kalian tidak boleh memberi harga pada martabat rakyat!”
Alya Abutayah Alhwaiti, seorang aktivis hak asasi manusia Saudi, men-tweet: “#Pangeran_Ali_mewakili saya dan semua rakyat Arab dengan hati nurani”. Penolakan terhadap kesepakatan yang ditengahi AS juga telah timbul di antara warga Emirat sendiri, dengan sekelompok penentang membentuk Persatuan Perlawanan Terhadap Normalisasi UEA pekan lalu.
Kelompok itu mengatakan mereka bertujuan untuk “meningkatkan kesadaran menentang normalisasi” dan bersekutu dengan aktivis lain di kawasan itu untuk mencegah kesepakatan lain terjadi diantara ‘Israel’ dan negara-negara Arab.*