Hidayatullah.com—Tiga orang pria akan dihadirkan di kursi terdakwa pengadilan Spanyol dalam kasus penembakan yang menewaskan 16 orang di dan sekitar kota Barcelona tahun 2017.
Ketiga orang itu dituduh membantu para pelaku –yang semuanya mati ditembak petugas— dalam melakukan serangan yang menyebabkan sekitar 140 orang terluka.
Salah satu pelaku sengaja mengarahkan mobil van yang dikendarainya ke arah kumpulan turis di daerah Las Ramblas, Barcelona, sebelum serangan kembar dilakukan di sebuah kota kecil di dekatnya.
Ketiga terdakwa dijadwalkan dihadirkan di Mahkamah Agung Spanyol di Madrid hari Selasa (10/11/2020), lansir BBC.
Dua terdakwa dituduh sebagai bagian dari sebuah sel militan Muslim yang melakukan serangan itu. Mereka adalah Mohamed Houli Chemlal, pemuda berusia 23 tahun warga negara Spanyol dan Driss Oukabir, 31, warga Maroko. Jaksa menuntut mereka masing-masing berurutan 41 tahun dan 36 tahun penjara.
Kelompok ISIS alias IS mengklaim sebagai pelaku serangan di Barcelona itu.
Mereka menghadapi dakwaan tergabung dalam sebuah organisasi teroris, membuat dan menyimpan bahan peledak, serta berusaha menimbulkan kerusakan meluas.
Dakwaannya berkaitan dengan ledakan tidak sengaja di sebuah rumah di kota kecil Alcanar, yang terletak sekitar 200 kilometer arah selatan dari Barcelona, yang terjadi sehari sebelum serangan tersebut. Bahan peledak dan tabung-tabung gas disimpan di rumah yang hancur lebur itu. Chemlal ketika diperiksa kemudian mengatakan bahwa sel mereka merencanakan serangan yang lebih besar.
Kata pihak kepolisian, materi peledak yang akan mereka gunakan musnah dalam ledakan di rumah tersebut. Peristiwa itu juga menewaskan pemimpin kelompok sel itu yaitu seorang imam berusia 44 tahun.
Oukabir juga didakwa menyewa sebuah mobil van yang digunakan dalam serangan di Barcelona. Namun, pengacaranya mengatakan akan mengupayakan agar kasus itu dihentikan.
“Fakta bahwa dia menyewa sebuah van tidak berarti dia mengetahui bahwa kendaraan itu akan dipakai untuk melakukan serangan,” kata Luis Alvarez Collado kepada kantor berita AFP pekan lalu.
Tahun 2017 menyusul serangan di Barcelona dan ketika wajahnya sudah tersebar di media dan salah satu tersangka, Driss Oukabir mendatangi kantor kepolisian Spanyol di Ripoll dan melaporkan bahwa kartu identitasnya telah dicuri.
Laporan USA Today (18/8/2017) menyebutkan bahwa Driss Oukabir ditahan di kota Ripoll, sekitar 65 mil ke arah utara dari Barcelona, setelah dokumen atas namanya ditemukan di dalam sebuah van yang dipergunakan untuk membunuh sedikitnya 13 orang.
Meskipun tidak menampik kemungkinan keterlibatan Driss Oukabir dalam serangan itu, pihak penyidik berkeyakinan kartu identitasnya dipergunakan oleh abangnya Moussa Oukabir yang tinggal di Barcelona, tulis USA Today.
Media Amerika Serikat itu juga melaporkan bahwa polisi mengatakan Moussa akhirnya ditembak mati petugas pada hari Jumat (18/8/2017) di Cambrils. Dia diduga terlibat dalam serangan di Barcelona hari Kamis (17/8/2017) dan keesokan pagi di Cambrils.
Dalam perkembangannya kemudian, sopir yang mengendarai mobil van maut di Barcelona itu disebut bernama Younes Abouyaaqoub, 22, yang akhirnya ditembak mati oleh polisi di Subitras pada 21 Agustus 2017 setelah beberapa hari buron.
Terdakwa ketiga, Ben Iazza berusia 27 tahun, dituduh berkolaborasi dengan sel militan itu. Warga Maroko itu dituntut hukuman penjara 8 tahun karena meminjamkan mobil van dan dokumennya kepada mereka.
Namun, ketiga tersangka itu tidak satupun yang didakwa berkaitan langsung dengan serangan beruntun di Barcelona, Cambrils dan Alcanar. Proses persidangan dijadwalkan berlangsung sampai 16 Desember 2020.*