Hidayatullah.com– Invasi Rusia ke Ukraina sudah dimaklumi menjadi penyebab krisis energi di Uni Eropa. Kini, dipastikan harga roti naik hampir seperlima di Uni Eropa pada bulan Agustus.
Rusia dan Ukraina sama-sama eksportir gandum dan pupuk utama dunia, sehingga peperangan di antara mereka mengganggu pasokan bahan pembuat roti.
Pada Agustus 2022, harga roti di Uni Eropa rata-rata 18 persen lebih tinggi daripada Agustus 2021, menurut data yang diterbitkan oleh Eurostat di websitenya awal pekan ini, lapor RFI Rabu (21/9/2022).
Hal tersebut disebabkan “Rusia dan Ukraina adalah pengekspor utama sereal, gandum, jagung, minyak sayur (terutama minyak bunga matahari) dan pupuk”, jelas situs statistik Eropa tersebut.
“Peningkatan besar dibandingkan Agustus 2021”, catat Eurostat, karena pada saat itu “harga roti rata-rata 3% lebih tinggi daripada Agustus 2020”.
Harga roti meningkat secara konsisten di UE tahun ini, dari rata-rata 8,3 persen pada Februari, ketika Rusia meluncurkan apa yang disebutnya “operasi militer khusus” di Ukraina.
Negara dengan rata-rata kenaikan terendah adalah Prancis sebesar 8%, serta Belanda dan Luxembourg yang masing-masing mencatatkan kenaikan 10%.
Harga gabungan roti dan sereal meningkat 16,6% pada bulan Agustus, kenaikan tertinggi sejak setidaknya Januari 1997.
Laporan statistik Eurostat menyebutkan di kalangan negara Uni Eropa Hungaria mengalami inflasi paling tinggi, yaitu 65 persen dalam satu tahun.
Inflasi di zona euro mencapai rekor tertinggi 9,1% pada Agustus, didorong oleh harga energi dan pangan yang meningkat tajam, tulis Eurostat.*