Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Jendela Keluarga

Cantik Menurut Islam, Haruskah Identik Lekuk Tubuh?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 15 Januari 2021 13:26 1:26 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 15 Januari 2021 13:26
Bagikan
Ilustrasi: Kontes kecantikan
Bagikan

Hidayatullah.com | SIAPA yang tidak kenal dengan kontes kecantikan bertaraf internasional seperti Miss World dan Miss Universe? Atau kontes bertaraf nasional seperti  Putri Indonesia?

Konon, keduanya rutin diadakan sebagai ajang unjuk diri para wanita pilihan yang katanya menjadikan kecantikan hanya sebagai salah satu aspek penilaian, disamping kecerdasan, kepercayaan diri, kepedulian sosial dan lain-lain. Apa iya sih?

Disamping berbagai ajang kecantikan resmi tersebut, ada juga ajang kecantikan tidak resmi yang juga melakukan penilaian dan rangkingisasi kecantikan perempuan. Misalnya: akun Top Beauty (TB) World baik di Twitter maupun Youtube yang sempat meramaikan dunia maya Indonesia pada akhir tahun 2020 lalu sebab mengambil keputusan yang -dianggap- tidak tepat, yaitu memasukkan salah satu pedangdut Indonesia dalam jajaran atas.

Yang jelas, dua jenis kontes ini sama-sama menunjukkan bahwa masih banyak orang yang sibuk menilai orang lain, sibuk dengan menilai orang lewat kulitnya. Sebelum melanjutkan pembahasan, ada baiknya kita menengok arti dari kata ‘cantik’ itu sendiri.

Baca: Manfaat Buah Tin Bagi Kesehatan Ibu Hamil dan Kecantikan

Menurut KBBI, kata cantik memiliki dua makna: pertama, elok; molek (tentang wajah, muka perempuan) dan kedua, indah dalam bentuk dan buatannya. Maka, dilihat dari dua makna ini, kata cantik dalam bahasa Indonesia memiliki cakupan yang sempit, yang hanya berfokus pada rupa atau yang tampak oleh mata saja.

Baca Juga

Anak Saleh Buah dari Kesalehan Orang Tua?
Muharram, Momen Terbaik Menjadi Ibu Terbaik
Kecantikan Muslimah Sejati
Sebab-sebab Durhaka Istri kepada Suami
Anak Shalih dan Shalihah Takdir Allah, Kita Terus Berusaha

Sedangkan di dalam bahasa Arab akan kita temukan bahwasanya makna kata ‘kecantikan’, atau yang disebut dengan ‘al jamaal’ memiliki arti yang lebih luas. Sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Sayyidihi, seorang ahli bahasa dari Andalusia, bahwa al Jamaal (keindahan atau kecantikan) adalah ‘kebaikan/kebagusan pada perbuatan dan penciptaan’.

Menurut Ibnu Taimiyah, al Jamaal adalah apa-apa yang membuat seseorang terkenal dan terangkat derajatnya, baik dari perbuatan, akhlak, banyaknya harta, ataupun tubuh/ rupanya. Jadi, tidak melulu hanya soal paras yang rupawan.

Menyukai hal-hal yang cantik memang merupakan salah satu fitrah manusia, baik laki-laki maupun perempuan, sebagaimana tergambarkan di dalam beberapa kisah dalam al-Quran dan hadits. Misalnya dalam kisah Nabi Yusuf di Surat Yusuf.

Baca: Miss World dan “Mucikari” Kecantikan

Ketika Nabi Yusuf hadir dalam sebuah jamuan, penampilannya membuat para bangsawan perempuan terbius sampai-sampai tidak terasa memotong tangan mereka sendiri  dengan pisau makan yang tersedia. Hal ini terjadi saking takjubnya mereka dengan ketampanan Nabi Yusuf.

Atau juga kisah Sarah, yang saat itu dalam perjalannya bersama sang suami, Nabiullah Ibrahim dan tiba di Mesir. Kabar tentang kecantik istri Nabi Ibrahim terdengar oleh raja yang sedang berkuasa.

Raja yang dikenal suka kepada wanita tersebut memerintahkan bawahannya untuk mendatangkan Sarah kepadanya. Atas ijin Allah, Sarah berhasil terhindar dari gangguan raja tersebut.

Tak hanya dalam kisah-kisah masa lalu saja Islam berbicara tentang salah satu fitrah manusia ini. Dalam sebuah sabda Rasulullah ﷺ beliau menyampaikan empat kriteria yang bisa diperhitungkan saat hendak memilih pasangan, salah satunya adalah poin kecantikan. Makanya, sah-sah saja apabila seseorang memilih pasangan yang cantik nan sholihah ketimbang yang biasa tapi juga sholihah. Hal di atas pun menjadi bukti bahwa kecantikan memiliki porsi tersendiri dalam Islam.

Akan tetapi, apakah kecantikan dalam Islam hanya sebatas fisik dan kulitnya saja? Misalnya karena ukuran hidung, lebar wajah, atau bahkan -maaf- ukuran dada? Ataukah ada parameter khusus yang menentukan cantik tidaknya seseorang menurut Islam? Yang sesuai dengan pandangan Allah, misalnya?

Baca: 90 % Wanita Saudi Tak Puas dengan Kecantikannya

Kecantikan dalam Islam

Dalam masalah penampilan. Rasulullah ﷺ pernah bersabda: “Tidak akan masuk Surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan seberat biji debu”. Seseorang pun bertanya: ‘Sesungguhnya setiap orang suka (memakai) baju yang indah, dan alas kaki yang bagus, (apakah ini termasuk sombong?)’. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.” (HR:  Muslim).

Dari hadits di atas setidaknya ada dua pelajaran yang bisa kita ambil.

Pertama: bahwasanya Islam memang menganjurkan untuk memperhatikan penampilan yang baik juga rapi, sebab Allah menyukai hal-hal yang demikian. Kedua: bahwasanya memperhatikan penampilan itu harus jauh dari niat sombong, atau merasa yang terbaik dan unggul dan menganggap yang lain lebih rendah darinya.

Dalam masalah kebersihan Islam jelas punya perhatian yang luar biasa akan hal ini. Lihat saja salah satunya perintah untuk berwudhu sebelum melaksanakan sholat lima waktu; sebuah gerakan membersihkan beberapa anggota tubuh yang paling bersinggungan langsung dengan kotoran di luar. Atau adanya perintah untuk mandi yang wajib; saat hendak sholat jum’at, sholat Id, atau selepas haid, nifas dan junub.

Ada lagi sebuah perintah untuk mensucikan diri sebab hendak melakukan suatu hal yang ibadah yang sakral (sholat ied dan Jum’at), ataupun pembersihan diri dari kotoran yang keluar dari dalam diri sendiri, atau hadats besar. Maka, menjadi catatan memang apabila kita temui seorang muslim/muslimah yang kedapatan memiliki bau badan yang kurang sedap, sebab perlilakunya kurang sesuai dengan apa yang sudah Islam ajarkan.

Tentang kecantikan paras. Meski memang bukan menjadi hal yang paling disorot secara umum, akan tetapi hal ini merupakan hal yang sangat penting pada orang, waktu dan tempat tertentu.

Lihat saja kisah beberapa shahabiyah dan perhatian mereka terhadap hal ini. Misalnya saja, kisah tentang Ibunda Siti Aisyah setelah satu bulan tinggal di Madinah.

Pada hari itu beberapa shahabiyah lain mendatangi rumahnya dan mendandaninya, sebab pada hari itulah ‘Aisyah akan mulai tinggal bersama dengan Rasulullah ﷺ.

Baca: Ingatlah! Suatu Saat, Kecantikan Tak Lagi Berarti

Atau tentang kisah Ummu Sulaim, salah satu shahabiyah yang menunda memberitahukan kabar anak semata wayangnya pada sang suami, Abu Thalhah yang baru saja tiba dari perjalanan jauh. Ummu Salamah pun menyambut kehadiran suaminya itu dengan berdandan yang terbaik, dan baru mengabarkan kabar itu keesokan harinya.

Ada juga kisah tentang Rasulullah ﷺ yang mempertanyakan kondisi istri Utsman bin Madz’un, Khuwailah binti Hakim yang kala itu mengunjungi kediaman Sayyidah ‘Aisyah sedangkan kondisi dan penampilannya buruk.

Sayyidah ‘Aisyah pun menjelaskan bahwasanya Khuwailah ibarat seorang wanita yang tak memiliki suami, sebab terlalu sibuknya sang suami untuk sholat, puasa dan ibadah-ibadah lainnya (sampai-sampai tidak memperhatikan istrinya). Rasulullah ﷺ pun menegur Utsman bin Madzun atas perbuatannya tersebut.

Dari sini pun kita tahu bahwasanya orang-orang mulia di jaman Rasul tidak menjadikan kecantikan paras seseorang, terutama seorang perempuan, sebuah konsumsi publik.  Dari sini pun kita bisa ambil satu kesimpulan bahwasanya Islam telah mengatur semua urusan manusia, termasuk di dalamnya urusan kecantikan atau keindahan.

Maka, kecantikan yang hakiki yang tidaklah sebatas dalam urusan superfisial atau yang tampak dan terukur saja sebagaimana klaim cantik menurut para penyelenggara kontes kecantikan. Akan tetapi kecantikan hakiki adalah sebuah kecantikan dalam arti luas yang tentu saja diukur dengan parameter kecintaan dan keridhaan Allah, sebab apalah arti cantik paras tapi malah mengundang kemurkaan-Nya? Wallahu a’lam.*/ Asqina Hidayata An Najah, mahasiswa jurusan Syariah LIPIA

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:cantikkecantikankontes kecantikan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pemuda Hidayatullah Kaimana Terima Speedboat Dakwah
Tulisan selanjutnya Ledakan di Beirut Ada Kaitan dengan Pendukung Bashar Assad, Amonium Nitrat akan Dipakai Membuat Senjata

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ledakan di Damaskus Dekat Hotel Presiden Prancis Menginap,18 Orang Terluka

Berita
7 Juli 2026 19:22
Perwira Cadangan ‘Israel’: Pasukan Kami Sedang Mengalami Kemerosotan Moral
Laporan: Israel Akan Bebastugaskan 10.000 Tentara Cadangan karena Krisis Anggaran
Hamas Berharap Pasukan Internasional Jadi Penghalang Pelanggaran ‘Israel’ di Gaza
Ratusan Ribu Orang Padati Teheran, Hadiri Prosesi Pemakaman Ali Khamenei

Terbaru

  • Perwira Cadangan ‘Israel’: Pasukan Kami Sedang Mengalami Kemerosotan Moral
  • Amerika Serikat Kembali Serang Iran, Berdalih Bela Warga Sipil
  • ‘Israel’ Gunakan Kesepakatan Gas dan Air untuk Menekan Yordania
  • PBNU Tetapkan PP Bahrul Ulum Jombang Lokasi Muktamar Ke-35 NU
  • Perang Abadi Sistem Imun di Balik Keindahan Tato
  • Vatikan Pecat Kelompok Katolik Tradisional SSPX karena Menentang Paus
  • Menko Yusril Sebut Penyebarluasan LGBT Perlu Diantisipasi demi Ketahanan Nasional
  • Serukan Balas Dendam untuk Ali Khamenei, Lautan Pelayan Serukan Kematian Trump
  • Pelatih Timnas Mesir Suarakan Solidaritas untuk Palestina di Piala Dunia 2026
  • Tak Ingin Disaingi, ‘Israel’ Minta AS Blokir Penjualan F-35 ke Turki

Mungkin Anda Juga Suka

5 Tips Mendidik Anak agar Cinta Ramadhan
Jendela Keluarga

Sudahkah Anak Kita Diajarkan Akidah?

3 Desember 2022 20:55
Jendela Keluarga

Menjadi Ayah yang “Mesra” dengan Anak

26 November 2022 07:10
Jendela Keluarga

Akhlak Muslimah, Lembutlah dalam Bicara

8 November 2022 21:45
Jendela Keluarga

Hakikat Wanita Shalihah

4 November 2022 10:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?