Hidayatullah.com—China bisa menginvasi Taiwan dalam kurun 6 tahun ke depan sementara Beijing berusaha keras melampaui kemampuan militer Amerika Serikat di Asia, kata seorang komandan tinggi militer Amerika Serikat.
“Saya khawatir mereka [China] mempercepat ambisinya untuk mengungguli Amerika Serikat dan peran kepemimpinan kita di tatanan internasional … sebelum 2050,” kata petinggi militer AS untuk wilayah Asia-Pasifik, Admiral Philip Davidson, hari Selasa (9/3/2021) seperti dikutip The Guardian.
Taiwan jelas merupakan salah satu ambisi China, dan mungkin Beijing akan menguasai pulau itu dalam kurun waktu 6 tahun ke depan, kata Davidson dalam rapat dengar pendapat dengan Senat AS komite angkatan bersenjata.
Taiwan menyatakan memisahkan diri dari China daratan pada akhir perang sipil tahun 1949. Partai Komunis China di Beijing tidak pernah memerintah di Taiwan, tetapi senantiasa menganggap pulau itu sebagai teritori China yang akan dikuasai Beijing, bahkan jika perlu dengan paksa.
Pemerintahan Taiwan dan sebagian besar warganya menolak ide Taiwan bagian dari China. Pertikaian semakin memanas hingga Beijing memutus kontak formal dengan Taiwan setelah pemilu 2016 yang memenangkan Tsai Ing-wen sebagai pemimpin di sana.
China semakin geram dengan meningkatnya penjualan senjata AS dan kunjungan diplomatik semasa pemerintahan Presiden Donald Trump, yang memanas-manasi Beijing dengan perang dagang.
Dalam rapat dengan Senat AS tersebut, Davidson juga mengatakan bahwa China membuat klaim teritorial di kawasan Laut China Selatan yang kaya sumber daya alam dan bahkan mengancam pulau Guam yang dikuasai AS.
“Saat ini Guam menjadi target,” ujarnya, seraya memperingatkan bahwa China pernah merilis rekaman video yang menunjukkan simulasi serangan atas sebuah pangkalan militer di sebuah pulau yang mirim dengan fasilitas di Diego Garcia dan Guam.
Dia meminta wakil rakyat AS agar menyetujui pemasangan sistem pertahanan anti-mis Aegis Ashore Di Guam, yang mampu menangkal misil-misil yang ditembakkan China.
Guam Perlu untuk dipertahankan dan pulau itu perlu bersiap untuk menghadapi ancaman di masa mendatang, kata Davidson.
Sebagai tambahan dari sistem anti-misil Aegis yang diperuntukkan bagi Australia dan Jepang, Davidson meminta wakil rakyat AS di Senat untuk menyetujui anggaran pengadaan persenjataan jarak jauh agar “China sadar apa yang mereka inginkan sangat besar akibatnya.”
Pentagon sebelumnya pernah mengatakan setuju dengan pemasangan sistem anti-misil di kawasan itu, tetapi sekutu-sekutunya di Asia belum ada yang bersedia ketempatan.*