Hidayatullah.com — Organisasi Muslim di negara bagian utara India telah melaporkan penerbit dan penulis ke polisi setelah menemukan di dalam salah satu bab buku teks pelajaran memuat konten anti Islam yang mengaitkan agama Islam dengan terorisme.
Kasus yang didaftarkan pada Kamis pekan lalu (/03/2021) ke kantor polisi Jaipur terhadap Dewan Buku Pelajaran Negara Bagian rajasthan, pemilik Penerbit Buku Tabungan Sanjeev, dan para penulis karena menghubungkan Islam dengan terorisme, melukai keyakinan agama umat Islam, dan konspirasi kriminal. Total 14 orang yang dilaporkan dalam kasus itu.
Buku teks pelajaran itu diterbitkan oleh Dewan Buku Pelajaran Negara Bagian Rajasthan dan Penerbit Buku Tabungan Sanjeev untuk pelajar kelas 12 dan mulai dipergunakan selama masa jabatan Partai Bharatiya Janata (BJP) di negara bagian Rajasthan.
Negara bagian ini sekarang dipimpin oleh Partai Kongres dan buku teks tersebut menjadi bagian dari kurikulum di sekolah negeri.
Pelapor kasus tersebut adalah Mohsin Rasheed, koordinator Forum Muslim Rajasthan dan Sel Minoritas dari unit partai Kongres Rajasthan.
“Sebelumnya, mereka memasukkan terorisme Islam di mata kuliah B. Ed [Sarjana Pendidikan]. Sekarang mereka memasukkannya di kelas 12. Itu adalah upaya untuk menciptakan kecurigaan terhadap Muslim dan mempromosikan kebencian terhadap Islam,” kata Rasheed kepada Anadolu Agency.
“Dengan secara langsung mengaitkan Islam dengan terorisme dan kemudian menggunakan kata ‘terorisme Islam’, buku tersebut mencoba memprovokasi mahasiswa Muslim dan masyarakat dan melukai sentimen mereka,” ungkapnya menjelaskan alasan melaporkan bab yang anti Islam itu.
Rasheed meminta agar penerbit dan penulis buku itu dituntut dan bahwa “materi kebencian segera dihapus dari buku silabus.”
“Apa itu terorisme Islam” adalah pertanyaan dalam buku teks ilmu politik.
Jawaban dalam buku-buku tersebut mengatakan: “Terorisme Islam adalah salah satu bentuk Islam, yang telah menjadi lebih kuat dalam 20-30 tahun terakhir.” Ia juga menyebutkan: “Barbarisme, fitnah, pemerasan uang secara paksa, dan pembunuhan brutal atas nama agama telah menjadi ciri-ciri terorisme Islam.”
Bab tersebut lebih lanjut menambahkan: “Terorisme di Jammu dan Kashmir berada di bawah kategori agama dan separatis.”
Sementara itu, sekelompok Muslim diduga menyerang dan menggeledah kantor penerbit tersebut. Belakangan, polisi setempat menangkap tiga orang. Meski telah berulang kali mencoba, Anadolu Agency tidak dapat menghubungi penerbitnya.*