Hidayatullah.com—Kepala kesehatan wilayah Sicilia, Italia, hari Selasa (30/3/2021) mengundurkan diri setelah menjalani pemeriksaan terkait dugaan pemalsuan data Covid-19 guna menghindari lockdown.
Menurut pihak kejaksaan, Ruggero Razza mengubah jumlah tes Covid-19 agar daerahnya tidak dinyatakan sebagai zona merah dan di-lockdown.
Awal Oktober 2020, Italia memberlakukan kategorisasi warna merah, hingga dan kuning untuk menentukan risiko penularan coronavirus di suatu daerah. Di zona merah, warga hanya boleh meninggalkan rumah untuk bekerja, alasan kesehatan, belanja kebutuhan harian atau keperluan darurat. Di zona hingga dan kuning aturan yang diberlakukan lebih ringan.
Razza, yang membantah melakukan kesalahan tetapi memutuskan untuk mengundurkan diri, terekam alat penyadap sedang mendiskusikan jumlah kematian Covid-19 dengan seorang pejabat kesehatan setempat, lansir AFP.
“Saya ingin kembali menegaskan bahwa di Sicilia, epidemi senantiasa dipantau secara seksama,” kata Razza membela diri. “Kami tidak perlu menyembunyikan angka orang yang terinfeksi atau menurunkan dampak epidemi sebab kami sudah sering mengantisipasi keputusan Roma dan memberlakukan kebijakan yang lebih ketat.”
November 2020, inspektor kesehatan nasional melakukan investigasi guna mengetahui apakah ada upaya-upaya yang dilakukan oleh Sicilia agar wilayahnya tidak di-lockdown dengan menggelembungkan jumlah ketersediaan tempat tidur di ruang perawatan intensif.
Walikota Palermo, Leoluca Orlando, dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa ibukota Sicilia itu akan ikut ambil bagian dalam gugatan hukum dalam kasus tersebut, mengingat pengaruhnya pada kebijakan coronavirus di kotanya.*