Hidayatullah.com — Sekelompok nelayan di Yaman baru-baru ini menemukan muntahan paus atau ambergris bernilai Rp 21 miliar, lapor Middle East Eye pada Selasa (06/04/2021).
Penemuan ambergris atau muntahan paus ini menjadi hal yang luar biasa mengingat kehidupan para nelayan di Yaman menjadi hal yang tidak mungkin dijalani sejak pecahnya perang enam tahun lalu.
Melaut bisa menjadi hal yang berbahaya saat pihak yang bertikai berada di ujung tanduk, dan banyak wilayah laut Yaman menjadi daerah terlarang, memutus sumber pencaharian ribuan warga Yaman.
Di provinsi Aden selatan, pembatasan lebih longgar, menarik para nelayan dari daerah pantai lain yang lebih berbahaya seperti Hodeidah. Namun, pekerjaan begitu langka, seperti halnya peralatan dan kapal, dan kebanyakan dari mereka yang sebelumnya mempunyai kapal memilih untuk bergabung dengan kelompok penangkapan ikan yang lebih besar dan harus berbagi hasil melaut – beserta biayanya – dengan nelayan lain.
Tetapi suatu hari di bulan Februari, sekelompok nelayan dari desa al-Kahaisah, termasuk juga beberapa nelayan dari Hodeidah, pergi ke laut. Mereka tidak menyangka bahwa pelayaran itu akan menjadi pelayaran paling menguntungkan yang akan mengubah hidup mereka.
Mereka menemukan bangkai paus sperma raksasa, yang berisi potongan ambergris yang sangat besar, zat langka yang dikenal sebagai “emas mengambang” atau “harta karun laut”.
“Ketika para nelayan melewati bangkai ikan berukuran besar, seorang nelayan dari Hodeidah berteriak kepada rekan-rekan lain, karena dia mengenalinya sebagai ikan paus sperma,” kata Abdulrahman, salah satu nelayan yang mengambil ikan paus tersebut, kepada Middle East Eye.
“Nelayan Hodeidah lebih memiliki pengalaman dalam mengenali paus sperma daripada orang lain. Kami telah melewati bangkai ikan yang sama lebih dari sekali, dan kami tidak memberikan perhatian apapun karena laut penuh dengan bangkai ikan. Tapi pengalaman nelayan membuat perbedaan.”
Ambergris adalah bahan padat yang dikonsumsi oleh paus sperma yang tumbuh di ususnya selama beberapa tahun. Kadang-kadang dikenal sebagai “muntahan ikan paus”, ia dianggap kadang-kadang dimuntahkan tetapi lebih sering melewati sistem pencernaan atau anus.
Meskipun berbau tidak sedap seperti kotoran, zat aneh ini sangat berharga: minyak diekstraksi dari ambergris untuk membuat parfum bertahan lebih lama dan hanya digunakan untuk parfum dengan bau yang paling mahal.
Abdulrahman tidak pernah menemukan ambergris selama bertahun-tahun memancing. Dia berkata mungkin dia akan melewati beberapa yang mengapung di air, tetapi tidak pernah mengenalinya, karena dia hanya mencari ikan untuk ditangkap.
“Nelayan dari Hodeidah berada di perahu bersama nelayan lain, dan lebih banyak lagi di perahu lain di dekatnya, tetapi mereka tidak dapat membawa bangkai paus ke pantai sendirian,” kenang Abdulrahman.
“Jadi mereka meminta sembilan perahu tambahan untuk membantu mereka dan membawa bangkai paus itu ke pantai di dekat Gunung Shamsan Aden,” tambahnya.
Siang hari itu, para nelayan mulai membelah bangkai paus. Mereka menemukan lemak, isi perut, dan tulang, tapi ambergris yang berharga tidak terlihat. Sampai mereka menemukannya: kekayaan yang mengubah hidup.
“Lebih dari 100 nelayan ikut serta membawa paus ke pantai, membelahnya lalu menyimpan ambergris dan menjualnya,” kata Abdulrahman.
Untuk menghindari perselisihan, para nelayan menyepakati pembagian untuk setiap orang sebelum menjual ambergris. Mereka kemudian menjualnya seharga 1,3 miliar real Yaman, yang bernilai sekitar Rp 21 Miliar juta.
Ambergris itu memiliki berat 127kg dan para nelayan menjualnya kepada seorang pedagang dari Uni Emirat Arab, Abdulrahman bertindak sebagai perantara.
“Setiap keluarga di al-Khaisah merasa bahagia, karena semuanya mendapat sejumlah uang dari hasil penjualan ambergris,” kata Abdulrahman. “Beberapa nelayan mendapat 30 juta (Rp 1,7 miliar), ada yang kurang atau lebih, dan bahkan penjaga masing-masing mendapat 250.000 riyal. Setiap orang mendapat uang berdasarkan perannya.”