Hidayatullah.com — Beberapa warga Arab Saudi dan warga dari Jazirah Arab ikut serta dalam pekerjaan penggalian raksasa Terusan Suez yang menghubungkan Laut Merah dengan Laut Mediterania sekitar 150 tahun lalu.
Informasi ini terkandung dalam buku dan catatan sejarah para pelancong dan orientalis yang mengunjungi Semenanjung Arab dan wilayah tersebut. Terungkap pula bahwa keluarga Saudi dari Al-Qassim dan wilayah lain di Arab Saudi ikut serta dalam pekerjaan penggalian Terusan Suez, serta dalam pendistribusian air di antara para pekerja kanal atau terusan kapal, dengan menggunakan unta untuk mengambil air.
Kanal itu menjadi pusat perhatian dalam beberapa pekan terakhir setelah penyumbatan total oleh kapal kontainer yang kandas, menghentikan jalur penting rantai pasokan global.
Dilansir Saudi Gazette dalam bukunya “Travels in Arabia Deserta,” pengelana Inggris Charles Doughty menarasikan cerita tentang orang-orang Saudi yang bekerja menggali kanal, ketika dia tinggal di gurun Jazirah Arab sejak 1876, dan tinggal selama beberapa tahun, berpindah-pindah antara Madain Saleh, AlUla , Tayma, Salam, Buraidah dan Unaizah, lalu ke Khaibar, Taif dan Jeddah. Selama perjalanan gurun, dia merekam sketsa kehidupan Badui dengan akurat.
Doughty menceritakan perkenalannya dengan seorang pemuda Saudi bernama Ibrahim. Dia mencatat Ibrahim adalah satu diantara banyak warga Saudi dari kawasan Najd yang mencari pekerjaan selama penggalian Terusan Suez untuk mendapatkan uang. Ibrahim meyakini sekitar 200 orang dari Al-Qassim terlibat dalam penggalian terusan. Dia menyaksikan warga Prancis, Italia dan Yunani terlibat dalam proyek tersebut, dan berasumsi mereka berbicara dalam satu bahasa.
Mengisahkan ketangguhan pekerjaan kanal, Doughty berkata, mengutip Ibrahim, bahwa dia melihat beberapa paket yang dikirim dari lokasi kerja Terusan Suez ke alamat dua toko, dan dia juga berbicara tentang pekerjaan seorang wanita, yang berasal dari kaum Kekaisaran Frank, yang membawa pistol dan berperan sebagai bos yang mengawasi para pekerja saat mereka melakukan pekerjaan, karena ada banyak kelompok pekerja dari berbagai negara, campuran orang miskin, termasuk Muslim dan Kristen.
Penerjemah buku itu berkomentar bahwa jelas dari konteks bahwa pekerjaan penggalian Terusan Suez tidak terbatas pada orang Mesir saja, tetapi ada banyak orang yang berpartisipasi dalam pekerjaan ini dari Jazirah Arab dan juga dari wilayah Mediterania.
Doughty juga mengisahkan cerita dan lelucon tentang Suez dari banyak pekerja dari Jazirah Arab, dan tentang hidup berdampingan antara pekerja yang berbeda agama, serta kesulitan yang mereka hadapi selama bekerja.
Menurut dokumen sejarah yang dirilis oleh seorang pencinta pusaka, sejumlah orang dari Suku Ghamid melakukan perjalanan ke Mesir untuk ikut serta dalam pekerjaan penggalian kanal. Dalam sepucuk surat yang berasal dari tahun 1864, seorang pemuda Saudi bernama Musaed menulis kepada ayahnya tentang wabah kolera di mana banyak orang meninggal.
Patut dicatat bahwa Terusan Suez adalah jalur air buatan manusia yang menghubungkan Laut Mediterania ke Samudra Hindia melalui Laut Merah. Terusan ini membentang 193 km dari Port Said di Laut Mediterania di Mesir ke arah selatan ke kota Suez, yang terletak di pantai utara Teluk Suez.
Butuh waktu 10 tahun untuk membangunnya dengan perkiraan 1,5 juta orang yang mengerjakan proyek tersebut dan secara resmi dibuka pada 17 November 1869. Ini adalah salah satu jalur pelayaran yang paling banyak digunakan di dunia, yang dilalui sekitar 12 persen dari perdagangan global.
Pada tanggal 23 Maret 2021, kanal itu diblokir di kedua arah oleh kapal kontainer raksasa Ever Given saat kandas setelah angin kencang diduga meniup kapal tersebut keluar jalur. Saat kandas, Ever Given berbalik ke samping, benar-benar menghalangi kanal selama hampir satu minggu.*