Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Temuan Kuburan Massal, PM Kanada Desak Paus Fransiskus Minta Maaf

Ahmad
Terakhir diupdate: 27 Juni 2021 13:19 1:19 pm
Ahmad
Dipublikasikan 27 Juni 2021 13:19
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau meminta pemimpin Katolik Paus Fransiskus datang ke negaranya dan meminta maaf. Hal ini ia sampaikan setelah peran Gereja Katolik dalam menjalankan sekolah-sekolah perumahan untuk anak-anak pribumi terkait ditemukanya hampir seribu sisa-sisa jenazah anak-anak ditemukan di dua kuburan massal.

“Saya telah berbicara secara pribadi secara langsung dengan Yang Mulia Paus Fransiskus untuk mendesaknya betapa pentingnya bukan hanya dia membuat permintaan maaf tetapi dia meminta maaf kepada penduduk asli Kanada di tanah Kanada,” kata Justin Trudeau kepada wartawan di Ottawa seperti dikutip dari Channel News Asia, Sabtu, 26 Juni 2021.

Kuburan Massal Ditemukan

Sebuah kelompok pribumi di Provinsi Saskatchewan Kanada pada Kamis mengatakan telah menemukan kuburan massal tak bertanda dari sekitar 751 anak-anak pribumi Kanada di sebuah lahan bekas sekolah perumahan Katolik, hanya beberapa minggu setelah penemuan kuburan anak-anak serupa yang lebih kecil. Penemuan terbaru, yang terbesar hingga saat ini, adalah warisan gelap dari tahun-tahun diskriminasi yang dialami masyarakat pribumi di Kanada.

Perdana Menteri Justin Trudeau mengatakan dia sangat sedih dengan penemuan kuburan anak-anak di Marieval Indian Residential School sekitar 140 km dari ibu kota Provinsi Regina. Dia mengatakan kepada penduduk asli bahwa luka dan trauma yang mereka rasakan adalah tanggung jawab Kanada.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Tidak jelas berapa banyak dari kuburan yang terdeteksi milik anak-anak, kata Kepala Cowessess First Nation Cadmus Delorme, karena cerita masyarakat menyebut orang dewasa juga dimakamkan di lokasi tersebut.  Delorme kemudian mengatakan ada juga beberapa kuburan milik orang non-pribumi yang mungkin milik gereja.

Dia mengatakan First Nation berharap untuk menemukan batu nisan yang pernah menandai kuburan ini, setelah itu mereka mungkin melibatkan polisi.  Delorme mengatakan gereja yang mengelola sekolah itu memindahkan batu nisannya.

“Kami tidak memindahkan batu nisan. Memindahkan batu nisan adalah kejahatan di negara ini. Kami memperlakukan ini seperti TKP,” katanya.

Sistem sekolah perumahan, yang beroperasi antara tahun 1831 dan 1996, memindahkan sekitar 150.000 anak pribumi dari keluarga mereka dan membawa mereka ke sekolah perumahan Kristen, kebanyakan Katolik, dijalankan atas nama pemerintah federal.  “Kanada akan dikenal sebagai negara yang berusaha memusnahkan First Nations,” kata Bobby Cameron, ketua Federation of Sovereign Indigenous Nations, yang mewakili 74 First Nations (Pribumi Kanada) di Saskatchewan.

Komisi Pencari Fakta dan Rekonsiliasi Kanada, yang menerbitkan laporan yang menemukan sistem sekolah perumahan sama dengan genosida budaya, mengatakan sebuah kuburan ditinggalkan di situs Marieval setelah gedung sekolah dihancurkan.  Keuskupan agung Katolik setempat memberi Cowessess First Nation CAD$70.000 (Rp 821 juta) pada tahun 2019 untuk membantu memulihkan situs dan mengidentifikasi kuburan yang tidak bertanda, kata juru bicara Eric Gurash.

Dia mengatakan keuskupan agung memberi Cowessess semua catatan kematiannya selama lembaga Katolik menjalankan sekolah itu. Dalam sebuah surat kepada Delorme pada Kamis, Uskup Agung Don Bolen mengulangi permintaan maaf sebelumnya atas kegagalan dan dosa para pemimpin dan staf Gereja, dan berjanji untuk membantu mengidentifikasi jenazah.

Penemuan kuburan massal anak-anak di Kamloops membuka kembali luka lama di Kanada tentang kurangnya informasi dan akuntabilitas seputar sistem sekolah perumahan, yang secara paksa memisahkan anak-anak pribumi dari keluarga mereka dan menjadikan mereka kekurangan gizi serta menderita pelecehan fisik dan seksual.

Paus Fransiskus mengatakan pada awal Juni bahwa dia sedih dengan penemuan kuburan anak-anak Kamloops dan menyerukan penghormatan terhadap hak dan budaya penduduk asli. Tapi Paus tidak menyampaikan permintaan maaf langsung yang diminta beberapa orang Kanada atas penemuan kuburan massal anak-anak pribumi di bekas sekolah yang dijalankan gereja Katolik.*

 

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:anak anak pribumikatolikKuburan Massalpaus FransiskusPM Kanada
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Politik untuk Ibadah, Bukan Sekedar untuk Berkuasa
Tulisan selanjutnya MUI Riau Minta Panitia Kurban Ikuti Prokes dan Berikan Daging Langsung ke Rumah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Berita
31 Mei 2026 05:45
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Terbaru

  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?