Hidayatullah.com—Uganda menghabiskan lebih dari $30,2 juta untuk membeli mobil baru bagi anggota parlemen, sementara pemerintah mengaku kesulitan untuk membeli vaksin Covid-19.
Parlemen pekan ini membagikan uang kepada para anggotanya untuk membeli mobil baru dan setiap wakil rakyat itu diberikan 200 juta shilling ($56.500), kata jubir parlemen Chris Obore kepada Reuters.
Uganda memiliki 529 anggota parlemen, lansir Reuters Jumat (23/7/2021).
“Anggota parlemen harus bekerja, kendaraan merupakan bagian dari fasilitas yang diberikan kepada mereka untuk melakukan pekerjaannya. Mereka perlu mengunjungi daerah pemilihannya, jika mereka tidak memiliki kendaraan, bagaimana mereka melakukannya?,” imbuhnya.
Sejak akhir Mei, Uganda mengalami gelombang kedua wabah Covid-19, yang dipicu oleh varian Delta.
Lonjakan kasus membuat rumah sakit kewalahan dan memicu kekurangan fasilitas utama seperti oksigen, tempat tidur, dan peralatan pelindung pribadi seperti masker dan pakaian hazmat.
Pemerintahan Presiden Yoweri Museveni,76, sejauh ini gagal membeli vaksin. Para pejabatnya mengatakan bahwa Uganda kesulitan mendapatkan vaksin akibat diborong oleh negara-negara kaya di Barat.
Dari 41 juta jiwa populasi Uganda kurang dari 1% sudah menerima suntikan vaksin Covid-19 yang semuanya merupakan donasi
“Uang itu sebenarnya bisa dipakai untuk merencanakan pembukaan kembali negara ini, dan satu-satunya cara untuk mempersiapkan pembukaan kembali itu adalah dengan vaksinasi,” kata Mukuzi Muhereza, sekretaris jenderal Asosiasi Medis Uganda, organisasi pekerja kesehatan.
“Kami melihat urgensi dalam penyelesaian masalah politisi, tetapi tidak ada urgensi dalam pendanaan keadaan darurat medis.”
Uganda sejauh ini mencatat total 91.355 kasus Covid-19 dan 2.483 kematian, menurut data terbaru dari kementerian kesehatan.
Oposisi dan masyarakat sipil di masa lalu mengkritik pemerintah karena menghamburkan uang untuk acara seperti pelantikan Museveni yang digelar mewah pada bulan Mei, tetapi gagal mengadakan vaksin atau membeli makanan bagi rakyat rentan dampak lockdown.
“Pemborosan untuk membeli kendaraan di masa seperti sekarang ini merupakan malapetaka,” kata Harold Kaija, seorang pejabat di Forum for Democratic Change, Salah satu partai oposisi terbesar di Uganda.*