Hidayatullah.com—Imam asal Indonesia di Kota New York, Muhammad Syamsi Ali (54) akhirnya menjawab kontroversi shlat Tarawih yang diselenggarakan muslimin Amerika di Time Sqare. Menurut Syamsi Ali, tradisi shalat di Time Square ini sudah tradisi tahunan dan bagian syiar Islam, bukan karena kekuarangan masjid.
“Teman2, kegiatan sholat tarawih semalam di Time Square itu hal biasa dlakukan di NY. Itu bagian dari religious freedom. Bkn karena kurang masjid. Ada 300-an masjid di Kota New York (NY), “ ujar pria asal Makassar ini. “Tapi itu murni mengekspresikan eksistensi, sekaligus izzah (tdk malu/takut) sebagai Muslim di kota ini,” tambahnya.
Jawaban Syamsi Ali ini sekaligus meredam suara nyinyir di Indonesia, seolah-oleh Muslimin AS itu cari sensasi padahal sudah disediakan masjid.
Sebelumnya, panitia penyelenggara, ProjectZamZam telah menjelaskan, parade shalat Tarawih lokasi yang paling ikonik di AS itu dalam rangka menunjukkan kepada orang lain bahwa Islam adalah agama yang damai. Penyelenggara mengatakan hal ini karena selama ini ada kesalahpahaman tentang Islam.
“Kami ingin menjelaskan agama kami kepada semua orang yang tidak tahu tentang apa… Islam adalah agama damai,” kata panitia dikutip Middle East Eye (MEE).
Penyelenggara acara –yang meminta disapa sebagai SQ– mengatakan kepada Middle East Eye bahwa ia berharap tontonan shalat berjamaah bias membantu non-Muslim belajar tentang Islam.
“Ada dua foto yang saya posting di sini. Satu, acara tarawih semalam. Kebetulan saya tdk ikut karena kesibukan juga di masjid. Satu lagj Parade Islam yang Kebetulan saya yang pimpin sebelum Pandemi. Jadi ini biasa. Polisi membantu menutup jalan dan menjaga keamanan,” tambah Syamsi Ali yang juga Ketua Masjid Al-Hikmah dan Direktur Pusat Muslim Jamaika di Jamaika, Queens, New York City ini.*




