Hidayatullah.com– Model pemerintahan “satu negara dua sistem” yang ditetapkan China di Hong Kong terbukti melindungi kota itu dan harus dipertahankan dalam jangka panjang, kata Presiden Xi Jinping.
Hong Kong hari Jumat (1/7/2022) menandai 25 tahun sejak Inggris mengembalikan wilayah itu ke China.
Prinsip “satu negara dua sistem” lahir dari kesepakatan antara Inggris dan China dan diabadikan dalam undang-undang di Hong Kong. Dengan sistem ini Hong Kong seharusnya dikelola dengan hak otonomi dan perlindungan terhadap hak berbicara serta berserikat dan berkumpul, serta hak-hak lain yang tidak diberikan di China daratan.
Perlindungan khusus untuk kota bisnis itu akan berakhir 2047. Setelah itu Hong Kong akan dikelola sepenuhnya seperti apa yang Beijing mau.
“Satu negara dua sistem telah lolos uji dan terbukti dari waktu ke waktu, dan tidak alasan untuk mengubah sistem bagis seperti itu,” kata Xi dalam pidatonya di bekas koloni Inggris itu, disambut tepukan tangan para hadirin yang kebanyakan merupakan kaum elit Hong Kong yang pro-Beijing.
Xi mengatakan bahwa “demokrasi sejati” di Hong Kong dimulai ketika wilayah itu dikembalikan ke China.
Namun, dari tahun ke tahun kota bisnis itu mengalami aksi protes besar-besaran terhadap tangan besi Beijing atas kota bisnis itu, yang selama di bawah kendali Inggris menikmati kebebasan dan kemakmuran layaknya negeri-negeri di Barat.
Tahun 2022, China memberlakukan undang-undang keamanan yang membungkam kebebasan berbicara dan orang-orang yang berseberangan dengan pemerintah Beijing.
Reformasi undang-undang pemilu terbaru memastikan bahwa hanya “patriot” yang hanya bisa mencalonkan diri untuk jabatan publik.
Dalam pidatonya, Xi membela kebijakan-kebijakan batu itu yang disebutnya “demi menyelamatkan stabilitas jangka panjang dan keamanan Hong Kong.
“Tidak ada orang di negara atau daerah manapun di dunia yang akan membiarkan kekuasaan politik jatuh ke tangan kekuatan atau individu yang tidak mencintai, atau bahkan akan menjual atau mengkhianati, negaraa mereka sendiri,” kata Xi, seperti dilansir BBC.
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson sebelumnya pada hari Jumat mengatakan,” Kami tidak akan menyerah atas Hong Kong.”
“Dua puluh tahun silam kami berjanji kepada teritori itu dan rakyatnya dan kami bertekad untuk memegang janji itu, melakukan apa yang kami bisa agar China memegang komitmennya sehingga Hong Kong kembali diperintah oleh rakyat Hong Kong, untuk rakyat Hong Kong,” kata Johnson.*