Hidayatullah.com– Salah satu calon menteri dalam kabinet Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Orit Strook, mengusulkan agar para dokter di Israel harus diperbolehkan untuk menolak merawat pasien LGBTQ dengan alasan keagamaan.
Orit Strook adalah politisi wanita anggota Knesset dari Partai Zionis Relijius yang beraliran kanan-jauh.
Netanyahu – yang menyebut pernyataan Strook “tidak dapat diterima” – menyangkal pemerintahan barunya akan menimbulkan ancaman terhadap hak-hak kaum homoseksual.
Namun, para kritikus mengatakan Netanyahu terlalu lemah untuk mengontrol mitra koalisi ultra nasionalis dan ultra ortodoks yang bergabung dalam pemerintahannya, yang mendorong Israel untuk semakin mengadopsi apa yang mereka pandang sebagai warisan agama Yahudi yang sudah digariskan oleh tuhan mereka.
Yossi Beilin, bekas menteri kehakiman Israel, mengatakan bahwa Netanyahu sangat membutuhkan dukungan partai-partai ekstrem kanan untuk melemahkan aparat penegak hukum, dengan harapan skandal korupsinya tidak diproses lebih lanjut. Oleh karena itu, tuntutan dari mitra koalisinya kemungkinan akan dituruti oleh Netanyahu.
“Oleh karena Netanyahu sangat, sangat lemah, dia tidak memiliki pilihan [untuk menangani] kekuatan ekstremis ini, yang sebagian di antaranya adalah orang-orang gila,” kata Beilin, seperti dikutip The Guardian Senin (26/12/2022).
“Mungkin dia berniat untuk tidak menerapkan hal-hal seperti ini, tetapi saya tidak yakin dia dapat menghindarinya. Orang-orang ini benar-benar fanatik,” imbuhnya.
“Kami tidak pernah berada dalam situasi seperti itu… Kita mungkin menghadapi Israel yang berbeda dengan halacha [hukum Yahudi] sebagai tujuan yang akan didukung oleh orang-orang yang hidup dalam kegelapan,” katanya lagi.
Netanyahu bermaksud untuk mengadakan pemungutan suara di parlemen untuk mendapatkan restu pemerintahan barunya pada Kamis 29 Desember, beberapa hari sebelum mandatnya untuk membentuk kabinet baru berakhir, kata ketua parlemen pada hari Senin.
Blok politik Netanyahu, yang terdiri dari partai-partai sayap kanan dan agama, memenangkan pemilihan parlemen bulan lalu, tetapi dia mengalami kesulitan mewujudkan kesepakatan dengan mitra-mitranya.*