Hidayatullah.com–Setidaknya 125 etnis Muslim Rohingya yang kebanyakan perempuan dan anak-anak dilarang memasuki wilayah Bangladesh.
Petugas penjaga pantai setempat, Nafiur Rahman mengatakan, pemerintah provinsi itu menghalangi perahu yang membawa pengungsi Rohingya tersebut ketika cobaan memasuki negara akibat penganiayaan oleh rezim Myanmar.
“Mereka termasuk 61 wanita dan 36 anak-anak. Kami mencegah mereka memasuki wilayah kita, “katanya.
Sebagaimana diketahui, angka kematian etnis Islam Rohingya di barat Myanmar yang meningkat menjadi 130 orang mendorong golongan itu memilih untuk melarikan diri ke Bangladesh.
Menurut Reuters, warga Rohingya yang sudah melarikan diri tidak mungkin kembali ke desa-desa di Myanmar, ada kemungkinan mereka terdampar di laut. Mereka sejak Selasa (15/11/2016), terdampar di perbatasan Bangladesh.
Sejumlah etnis itu ditembak mati ketika mereka mencoba menyeberangi sungai Naaf yang memisahkan antara Myanmar dan Bangladesh.
Militer Myanmar Lakukan Pemerkosaan terhadap Wanita Rohingya
Malahan, ada yang tiba dengan perahu diusir penjaga perbatasan Bangladesh mengakibatkan mereka terdampar di laut.
“Sebanyak 80 etnis Rohingya termasuk 40 wanita dan 25 anak-anak telah dihalau oleh Penjaga Perbatasan Bangladesh dari pos perbatasan Teknaf.
“Beberapa dari mereka mencoba memasuki Bangladesh dengan menggunakan dua speedboat,” kata pejabat pemerintah militer di Cox s Bazar, timur Bangladesh, Letnan Kolonel Anwarul Azim dikutip Reuters.
Pertumpahan darah di negeri Rakhine dikatakan paling serius setelah ratusan orang tewas dalam perkelahian etnis sejak 2012.
Ketegangan itu mengungkapkan kelemahan pemerintah pimpinan Aung San Suu Kyi yang baru berusia tujuh bulan itu.
Tim militer dilihat semakin banyak di sepanjang daerah Myanmar dan Bangladesh saat mereka berbalas serangan di tiga pos perbatasan pada 9 Oktober lalu menyebabkan sembilan anggota polisi tewas.
Anggota keamanan itu juga menutup daerah yang dihuni warga Rohingya, selain mencegah petugas bantuan dan pengamat independen dari memasuki wilayah tersebut.
Tim militer dikatakan telah mengintensifkan operasi sejak tujuh hari lalu dan turut menggunakan helikopter untuk menggempur beberapa desa Rohingya.
Pihak berwenang di Bangladesh memperkirakan setidaknya 5000 Rohingya melarikan diri dari Myanmar sejak serangan Oktober lalu.
Pengungsi kini menetap di empat kamp Rohingya di perbatasan Bangladesh, namun pada Selasa lalu, penjaga perbatasan menghalau sekelompok besar etnis tersebut dari menyeberangi sungai Naaf.
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), etnis Rohingya merupakan salah satu minoritas yang paling parah ditindas di dunia.
Pemerhati Politik Internasional, Arya Sandhiyudha mengatakan organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) haru segera turun ke lapangan melihat aksi kekerasan terbaru terhadap etnis Muslim Rohingya di Myanmar karena dimungkinkan adanya pembantaian etnis.
Pengamat: PBB Harus Investigasi Kemungkinan Genosida di Myanmar
Pernyataan ini disampaikan terkait peristiwa pembakaran di beberapa desa Rohingya di negara bagian Rakhine, Myanmar dalam sebulan ini.*