Hidayatullah.com–Penindasan terhadap etnis Muslim Uighur oleh pemerintah China tidak pernah berhenti, bahkan dinilai melampaui telah batas kemanusiaan.
Baru-baru ini, pemerintah China diyakini telah memaksa wanita Muslim Uighur menikahi pria China tanpa persetujuan, melalui video yang tersebar di situs media social, kutip laman taiwannews.com.tw.
Video yang diposting oleh akun Facebook Talk to East Turkistan kelompok oposisi Uyghur pada hari Sabtu, 26 Mei 2018, dimana kelompok itu menklaim potongan pernikahan yang dipaksakan antara seorang pria China dan seorang wanita Uyghur sebagai bagian dari program indoktrinasi dan asimilasi politik Tiongkok guna menekan populasi minoritas etnik di Xinjiang ini.
Mayoritas netizen mengekspresikan kekecewaan dengan tindakan kejam China, terutama melihat saat ekspresi wanita Uighur dalam kesedihan.
Baca: Otoritas China Berusaha Halangi Muslim Uighur Puasa Ramadhan
Pemuat video mengatakan bahwa kehidupan kaum minoritas Muslim di wilayah itu sangat terlalu tertekan dalam segala hal.
“Setelah menempatkan laki-laki Uyghur di kamp-kamp konsentrasi, China sekarang memaksa perempuan-perempuan Uighur untuk menikahi lelaki China. Pembantaian sedang berlangsung secara terang-terangan.
“Apa yang disesalkan, masyarakat internasional, termasuk negara Islam lainnya, mengabaikan saja teriakan Muslim Uyghur,” tulisnya.
Sebelumnya laporan ini, pemerintah China selalu menindas muslim Uighur di Xinjiang, di antaranya tidak mengizinkan staf, guru dan siswa berpuasa dan menjalankan setiap kegiatan yang berkaitan dengan bulan suci ini.
Bahkan, muslim Uighur juga tidak diperbolehkan untuk memakai jilbab, memelihara jenggot, memakai lambang bulan sabit dan bintang di pakaian atau di transportasi publik.
Tidak hanya itu, mereka juga kesulitan mendapatkan paspor terutama ketika mereka ingin melakukan haji.
Baca: Muslim Uighur Terus Tertekan, Pemerintah China Tutup Restoran Halal
Sebelum ini, lebih dari satu juta pejabat Partai Komunis China dikirim untuk tinggal bersama keluarga muslim Uighur di Xinjiang.
Para pejabat China itu diyakini akan mendoktrin keluarga muslim Uighur dengan ide-ide komunis dan semangat nasionalisme.
Proyek yang dinamakan Home Stays itu diungkap aktivis Human Rights Watch pada Ahad, 13 Mei 2018. Disebutkan proyek itu menargetkan rumah petani di Xinjiang selatan. Di wilayah itu sebelumnya pemerintah gencar melakukan kampanye anti terorisme, separatisme dan ekstremisme agama.
Pernyataan pemerintah dan laporan media negara China menunjukkan keluarga muslim Uighur diminta untuk memberikan informasi rinci terkait kehidupan pribadi dan pandangan politiknya kepada pejabat Partai Komunis.
Mereka juga harus tunduk pada pendidikan politik dari pejabat yang tinggal di rumah mereka. Para pejabat akan tinggal di rumah warga etnis Uighur setiap 1 minggu per bulannya di beberapa lokasi.*