Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Peneliti Genosida: Muslim di Kashmir dan Assam Satu Langkah menuju Pemusnahan

Nashirul Haq
Terakhir diupdate: 17 Desember 2019 11:17 11:17 am
Nashirul Haq
Dipublikasikan 17 Desember 2019 11:17
Bagikan
Gregory Stanton pada briefing Kongres AS
Bagikan

Hidayatullah.com-Mereka yang pernah menggunakan platform media sosial pasti pernah sekilas melihat sebuah grafik tentang genosida dalam postingan-postingan yang berhubungan dengan zona konflik dan wilayah perselisihan sosial. Grafik ini, ’10 tahap Genosida’ (beberapa versi memiliki delapan tahap), menggambarkan pembunuhan massal etnis sebagai sebuah proses yang terdiri dari tahapan yang dapat diprediksi.

Penggolongan tahapan genosida pertama kali dibuat oleh seorang professor AS, Gregory Stanton, ketika dia bekerja di Departemen Luar Negeri pada tahun 1996 selama masa genosida di Rwanda.

Pada Kamis, Stanton, yang adalah presiden organisasi Genocide Watch, mengklaim “Muslim di Kashmir dan Assam” hanya satu langkah lagi dari pemusnahan.

Stanton membuat pernyataan itu dalam penjelasan singkat di Kongres AS untuk Kashmir dan Pendaftaran Warga Negara Nasional (NRC), yang diselenggarakan oleh Dewan Muslim India Amerika, Emgage Action dan Hindu for Human Rights. Sementara Dewan Muslim India Amerika dan Emgage Action bekerja untuk hak asasi manusia Muslim, Hindu for Human Rights mengklaim sebagai organisasi advokasi berbasis di Amerika Serikat “berkomitmen terhadap cita-cita pluralisme multi-agama di Amerika Serikat, India dan seterusnya”.

Menurut sebuah siaran pers pada briefing oleh Dewan Muslim India Amerika, Stanton mengklaim, “Persiapan untuk sebuah genosida sedang berlangsung di India.” Dia menjelaskan, “Persekusi Muslim di Assam dan Kashmir adalah tahapan sebelum genosida. Tahapan selanjutnya adalah pemusnahan – itulah yang kami sebut sebagai genosida.”

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Stanton menuduh Assam sedang menyaksikan “pembentukan dalih untuk pengusiran [Muslim]”. Dia berpendapat permasalahan baik di Kashmir dan Assam adalah “kasus klasik”, mengikuti pola 10 tahap genosida.

Menguraikan tahap-tahap itu, Stanton dikutip oleh Dewan Muslim India Amerika mengatakan “Tahap pertama adalah ‘klasifikasi’ kita versus mereka.

Tahap kedua, ‘simbolisasi’, menyebut korban sebagai orang asing.

Tahap ketiga, ‘diskriminasi’, menggolongkan [korban] tidak termasuk dalam kelompok yang diterima sebagai warga negara, sehingga mereka tidak memiliki hak asasi manusia atau hak warga negara dan didiskriminasi secara hukum.

Tahap keempat, ‘dehumanisasi’, adalah ketika spiral genosida mulai turun. Anda mengklasifikasikan orang lain lebih buruk dari Anda. Anda menamakan meraka teroris, atau bahkan nama-nama binatang, mulai menyebut mereka sebagai kanker dalam tubuh politik; anda membicarakan mereka seperti mereka adalah penyakit yang harus diatasi.

“Tahap kelima adalah menciptakan sebuah ‘organisasi’ untuk melakukan genosida: Peran yang dimainkan oleh Tentara India di Kashmir dan pengambil sensus di Assam. Tahap keenam adalah ‘polarisasi’, yang dicapai dengan propaganda. Tahap ketujuh adalah ‘persiapan’, dan kedelapan ‘persekusi’, di mana Assam dan Kashmir saat ini berada. Setelah tahap kesembilan ‘pemusnahan’, muncullah tahap kesepuluh ‘penyangkalan’.”

Stantot mendeklarasikan rezim Perdana Menteri Narendra Modi memiliki “semua ciri khas rezim Nazi yang baru jadi”, menambahkan “nasionalisme yang diambil secara ekstrem adalah fasisme dan Nazisme”.

Briefing itu juga melihat partisipasi oleh aktivis India Teesta Seetalvad, seorang kritikus tajam kebijakan-kebijakan Modi. Berbicara melalui konferensi video, Seetalvad menuduh NRC telah mendiskriminasi Muslim dan “digunakan untuk menumbangkan HAM di Assam”.

Seetalvad menuduh, “NRC digunakan untuk mengadu masyarakat yang berbeda bahasa satu sama lain dan, menciptakan celah di antara kasta yang berbeda… Sebuah kegilaan sedang terjadi di Bengal Barat, Meghalaya dan negara bagian lain untuk mengganggu perdaiaman dan menciptakan kerusuhan.”*

Redaktur: Nashirul Haq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AssamgenosidaGregory StantonKashmirMuslim Kashmir
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kemenko Perekonomian: Sertifikasi Halal Gratis untuk UMK Jadi Prioritas
Tulisan selanjutnya China Menghapus Data-data Sensitif setelah Informasi Bocor terkait Kamp Penahanan Muslim Uighur

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Berita
4 Juni 2026 09:00
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Terbaru

  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?