Sambungan artikel PERTAMA
Terlucutinya kesempatan
Anak-anak sudah tidak memiliki banyak kesempatan. Banyak dari mereka yang terperangkap di dalam rumah mereka selama berbulan-bulan, tidak dapat bersekolah atau bermain.
“Kehidupan anak-anak… tidak ada lagi anak-anak… tidak ada lagi yang disebut ‘anak-anak’, kami semua saat ini sedang berada di Neraka… Anak-anak telah melupakan masa kecil mereka. Yang paling utama tidak ada lagi sekolah, mainan dan bahkan jika anak-anak ingin pergi ke sekolah mereka akan diajari mengenai bagaimana bertempur dan dasar-dasar Islam tetapi tidak ada pendidikan yang sebenarnya,” kata Aoun, ayah Rashida.
Anak-anak telah mengalami luka-luka psikologis, yang Save the Children peringatkan butuh waktu bertahun-tahun, atau bahkan berdekade-dekade untuk sembuh.
“Anak-anak harus bisa meninggalkan Raqqa tanpa ketakutan akan kekerasan atau kematian, atau terpaksa berjalan berhari-hari melalui ladang ranjau demi mencapai tempat aman,” kata Sonia Kush, Direktur Save the Children wilayah Suriah.
Baca: ‘Pesan Perpisahan’ dari Aleppo: Hentikan Genosida Ini!
“Sangatlah penting anak-anak yang telah dapat keluar hidup-hidup mendapat dukungan psikologis untuk membantu mereka menghadapi trauma karena menyaksikan kekerasan dan kebrutalan.”
“Anak-anak Raqqa mungkin terlihat normal di luar tetapi di dalam, banyak yang tersiksa oleh apa yang telah mereka saksikan. Anak-anak Raqqa tidak meminta mimpi buruk dan ingatan menyaksikan orang tercinta mereka mati di depan mereka. Kami mengambil resiko mengecam generasi anak-anak hingga seumur hidup tersiksa kecuali kebutuhan mental mereka dipenuhi,” Kush menambahkan.
Save the Children menekankan dibutuhkannya akses aman bagi penduduk sipil dari serangan-serangan udara atau menjadi pagar hidup oleh ISIS. Melindungi anak-anak yang terpengaruh kengerian perang merupakan sebuah prioritas. Pihaknya meminta bantuan internasional secara darurat dan secara signifikan meningkatkan dukungan untuk pelayanan kesehatan mental dan psikologis.
Penelitian lain oleh Save the Children pada Juli menunjukkan dampat konflik Mosul terhadap anak-anak. Setiap anak menunjukkan tanda-tanda ‘toxic stress’ – sebuah level stress berbahaya di mana tubuh secara konstan berada dalam mode ‘fight or flight’. 90% telah kehilangan orang tercintanya – melalui kematian, terpisah selama perjalanan, atau penculikan, dan kebanyakan mengalami mimpi buruk.
“Anak-anak dibiarkan mati rasa dan tak beremosi,” penelitian itu menambahkan.
Ketika anak-anak diminta untuk memainkan sebuah permainan di mana mereka dapat memasukkan apapun yang mereka tidak inginkan ke dalam sebuah ‘tas ajaib’, mereka tidak memilih barang atau apapun mengenai mereka, mereka seringkali memilih perang, senjata, kesedihan dan ISIS.
Ketika diminta untuk memilih sesuatu untuk membuat mereka merasa lebih baik, anak-anak sering menghadapi kesulitan untuk menjawab. Mereka yang bisa kebanyakan memilih “kebahagiaan”.*