Hidayatullah.com—Aksi penembakan dan pembakaran besar-besaran telah berlangsung di Maungdaw dan Rathedaung sejak hari Jumat – Senin, (28/08/2017), dilaporkan laman Rohingya Vision TV.
Inilah aksi kekerasan yang dilakukan pihak aparat kepada etnis Muslim Rohingnya dalam empat hari, dilakukan tanpa pandang bulu, demikian dilaporkan laman RivisionTV.
Militer Myanmar dinilai melakukan aksi pembunuhan melampaui batas hukum yang dimiliki di kawasan Rakhine yang dihuniwarga Muslim Rohingnya.
Menurut kesaksian warga dan sejumlah aktivis hak asasi manusia, para serdadu terlatih itu menembaki kaum pria Rohingya tak besenjata, perempuan, dan anak-anak.
“Bala tentara itu juga melakukan serangan dengan cara membakar apa saja yang ada di sana,” kata saksi mata.
Baca: Hampir 100 Orang Tewas di Rakhine, Pemerintah Pindahkan Warga Non Muslim
Otoritas di Myanmar mengatakan, serangan militer yang berlangsung sejak Jumat, 25 Agustus 2017, mengakibatkan sedikitnya 100 orang tewas.
Militer beralasan, aksi bersenjata dilancarkan untuk memberangus gerilyawan Tentara Penyelamat Arakan Rohingnya (ARSA) yang sebelumnya menyerbu pos polisi pada Subuh dinihari. Meski faktanya, korban adalah warga sipil etnis Rohingnya.
Inilah laporan Rohingya Vision TV;
2:00 Siang: Seluruh desa Firhali, Buthidaung, telah dibakar oleh pihak militer sejak pukul 09:00. Kebakaran dimulai setelah helikopter meninggalkan daerah tersebut.
1:00 Siang: Desa Luda, Maungdaw, dibakar pihak militer. Warga desa Rohingya mengungsi ke berbagai wilayah.
Helikopter militer terlihat di langit Maungdaw, di mana banyak desa dibakar dengan menggunakan peluncur dan mortir.
8:00 Pagi: Kamp Pengungsian Dalam Negeri, Koe Tan Kauk, telah dibakar pihak militer bersama dengan milisi Budha Mogh, di mana tembakan senjata terjadi. Di Rthedaung, Rohingya telah habis terbakar sejak 25 Agustus 2017 dan tak ada yang tersisa milik warga Rohingya.
Update: Ahad, 27 Agustus 2017
5:00 Sore: Desa Saimmonnafara, Doinfara, dan Furanfara di Haidafara, Maungdaw dibakar pihak militer dan dikabarkan sudah tersisa menjadi abu.
5:00 Sore: Di Kansama, Manufara, di Taungbazar wanita Buthidaung dan anak-anak dikabarkan dibantai tanpa ampun pihak militer bersama dengan Bengali Mogh. Kejadian tersebut disaksikan oleh seorang anak laki-laki berusia 10 tahun, yang berhasil lolos dari pembantaian.
Sebelumnya, militer telah membakar habis seluruh desa Haindafara dimana etnis Rohingya mengalami kelaparan selama 3 hari di daerah pinggiran, daerah perbukitan yang sangat membutuhkan bantuan medis dan hadirnya relawan kemanusiaan.
Desa-desa lain seperti; Di Fuktufarang, Kyangdaung, Tangana, NaraingChaung, di Kota Buthidaung juga dikabarkan telah terbakar habis, mengakibatkan perpindahan ribuan penduduk desa.
Sejumlah aktivis pembela Rohingnya dikutip Aljazeera mengatakan, jumlah korban tewas lebih besar daripada yang disebutkan pemerintah kepada media. Mereka menjelaskan, korban tewas sesuai dengan catatannya mencapai 800 minoritas Muslim, termasuk puluhan perempuan dan anak-anak.*