Hidayatullah.com–Di saat serangan pada Kota Raqqa semakin intensif, kisah-kisah horor mengenai penduduk sipil, khususnya anak-anak, yang bertahan di bawah kekuasaan ISIS mulai muncul.
Kelompok ISIS menduduki Raqqa pada Januari 2014, dan kota itu saat ini telah dikepung oleh AS dan Tentara Koalisi Kurdi (SDF). Baru-baru ini serangan-serangan udara yang dilaporkan telah membunuh lusinan penduduk sipil menyebabkan desakan agar penduduk sipil pergi dari kota itu.
Diperkirakan 18.000 hingga 25.000 penduduk sipil masih terperangkap di kota menurut badan kemanusiaan PBB, OCHA, sementara lebih dari 271.000 telah terpaksa meninggalkan rumah mereka sejak Operasi Euphrates Wrath dimulai pada November 2016. 18 dari 24 desa di Raqqa telah benar-benar kosong.
PBB pada hari Kamis meminta ditundanya pengeboman agar penduduk sipil dapat meninggalkan kota itu.
Sebuah pernyataan dari Save the Children menjelaskan resiko-resiko yang dihadapi oleh mereka yang tetap berada di Raqqa, dari kekerasan karena konflik itu sendiri, hingga terpaksa berpindah dari satu distrik yang dikuasai ISIS ke distrik yang lain, serta kekurangan makanan dan air.
Hanya dua pemukiman di Raqqa memiliki toko-toko makanan yang masih berfungsi, sedangkan penduduk seringkali mengandalkan jatah dan suplai makanan yang sebelumnya disimpan.
Air minum dipompa dari sumur dilaporkan telah menyebabkan penyakit diantara mayoritas populasi kota tersebut.
Mayoritas dari mereka yang masih berasa di kota telah sakit, penyakit-penyakit yang disebabkan oleh air terkontaminasi dari sumur.
Listrik hanyalah ada selama dua hingga enam jam sehari di lima dari enam pemukiman yang masih berpenduduk.
Ranjau, serangan udara, tembakan sniper, peluru nyasar dan ancaman terpisah dari keluarga merupakan alasan tertahannya mereka yang ingin pergi, ujar sebuah NGO seperti dilaporkan Middle East Eye pada Senin 28 Agustus 2017.
Anak-anak sangat rentan khususnya terhadap ranjau-ranjau dan alat peledak buatan (IED), serta trauma psikologis.
Sementara banyak dari mereka yang telah pergi mengungkapkan keinginan untuk kembali ke Raqqa, kembalinya penduduk sipil belum dicatat, dan tidak diharapkan terjadi hingga konflik berakhir dan ranjau-ranjau dibersihkan. Banyak yang saat ini tinggal kamp-kamp pengungsian sekitar.
Anak-anak Raqqa menggambarkan kehidupan brutal yang tidak pernah terpikirkan, menyaksikan eksekusi-eksekusi dan bom sebagai sebuah bagian rutin kehidupan.
“Suatu hari ISIS memenggal orang-orang dan meninggalkan tubuh mereka di jalanan. Kami melihat itu dan aku tidak sanggup menghadapinya. Aku ingin tidur tetapi aku tidak dapat melakukannya ketika ingat apa yang telah aku lihat. Dan aku tidak akam tidur, aku akan tetap bangun karena aku sangat takut. Sekarang aku dapat tidur secara normal karena tidak ada seorangpun yang dipenggal di sini,” kata gadis berumur 13 tahun, Rashida.
Parkiran dan tempat publik lainnya di kota itu telah menjadi lahan eksekusi, dikotori oleh penggalan kepala dan jasad-jasad yang membusuk, tambah Save the Children.
Ditambahkan pula, laporan baru-baru ini mengenai serangan udara yang membunuh lusinan penduduk sipil berarti para keluarga sedang menghadapi sebuah keputusan yang tidak mungkin: menetap dan beresiko terkena bom atau pergi dan beresiko ditembak oleh ISIS atau menginjak ranjau.*>> klik (BERSAMBUNG)