Hidayatullah.com–Sebuah wilayah kecil penting yang sebelumnya diduduki pejuang oposisi telah direbut oleh pasukan rezim Suriah dalam serangannya di provinsi Daraa, setelah berhari-hari bombardir udara.
Media-media rezim dan kelompok pemantau perang mengumumkan pada pagi ini bahwa rezim telah merebut desa Busra Al-Harir dan wilayah Laja di sekitarnya. Serangan pemerintah rezim Assad bertujuan untuk menguasai wilayah yang disebut “Segitiga Kematian”, yang menghubungkan Damaskus selatan dengan provinsi Daraa dan Quneitra.
Direbutnya wilayah ini oleh rezim membagi wilayah yang diduduki kelompok pejuang oposisi, mengisolasi para pejuang di utara provinsi di desa Zubayr, Asim dan Burj Janin. Para aktivis setempat telah melaporkan peningkatkan serangan sejak minggu lalu, dengan 60 rudal ditembakkan ke arah kota Daraa dalam 48 jam.
Pasukan rezim Suriah didukung oleh milisi Syiah Iran, serta militer Rusia. Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) juga melaporkan bahwa Rusia melancarkan serangan udara pertamanya ke Daraa sejak pertengahan 2017 pada akhir minggu lalu.
Hal itu terjadi setelah AS memperingatkan kelompok pejuang oposisi di selatan pada minggu lalu bahwa mereka seharusnya tidak mengharapkan dukungan militer Amerika untuk membantuk mereka melawan serangan besar pemerintah.
“Kami di pemerintahan Amerika Serikat memahami sulit kondisi yang Anda sedang hadapi dan masih menyarankan Rusia dan rezim Suriah untuk tidak melakukan tindakan militer yang melanggar zona,” pesan AS itu dikutip Middle East Monitor.
Wilayah barat daya Suriah secara strategis sensitif karena kedekatannya dengan perbatasan baik Jordania dan Daratan Tinggi Golan yang dijajah ‘Israel’. AS dan Rusia tahun lalu setuju untuk mengimplementasikan zona “de-eskalasi” di wilayah itu yang membantu menekan kekerasan di sana, meskipun masih seringkali terjadi.
PBB telah memperingatkan bahwa peningkatan militer di Suriah selatan dapat berdampak berbahaya bagi sekitar 750.000 penduduk sipil di wilayah yang diduduki kelompok oposisi. Serangan itu telah memaksa mengungsi ribuan orang dari rumah mereka, dengan setidaknya 3.000 keluarga telah bergerak menuju perbatasan Jordania.
Amman telah menyampaikan kekhawatirannya terkait aliran pengungsi baru itu, dengan mengumumkan kemarin bahwa negaranya tidak dapat lagi menerima aliran pengungsi. Jordania juga menyeru masyarakat internasional untuk membantu menemukan penyelesaian pada konflik itu. */Nashirul Haq AR