Hidayatullah.com– Setidaknya 22 penduduk sipil, termasuk beberapa anak-anak, telah terbunuh di barat laut Suriah ketika pasukan Rusia dan rezim Suriah melancarkan serangkaian serangan udara, menurut para sukarelawan medis yang bertugas di wilayah pejuang oposisi lapor Al Jazeera, Rabu (18/12/2019).
Pertahanan Sipil Suriah, juga dikenal dengan White Helmets, mengatakan serangan pada Selasa yang menarget puluhan desa dan pemukiman di distrik Maaret al-Numaan, provinsi Idlib, menyebabkan penduduk sipil menyelamatkan diri secara massal ke kamp-kamp pengungsi internal (IDP) di dekat perbatasan Turki.
Ahmed Sheikho, juru bicara untuk Pertahanan Sipil, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa sembilan orang terbunuh di kota Tal Mannis, enam terbunuh di Bidama dan lima lainnya terbunuh di Maasaran. Satu orang terbunuh di al-Kanayes, sementara seorang lainnya terbunuh di Maar Shamshah, tambahnya.
Di antara yang kehilangan nyawa di Bidama adalah seorang istri sukarelawan White Helmets dan tiga anaknya, kata Sheikho.
Sebuah pasar di pinggiran kota Maasaran juga dibom, menurut laporan Sheikho, yang mengatakan puluhan orang terluka di seluruh penjuru wilayah itu terluka dalam serangan tersebut dan operasi-operasi penyelamatan sedang berlangsung hingga Selasa sore.
Video yang diposting di media sosial dan dikonfirmasi oleh para penduduk menunjukkan kru darurat menarik mayat-mayat dari reruntuhan bangunan di sepanjang jalan di Maasaran ketika ambulans tiba.
Pemboman dari udara itu dimulai sekitar jam 7 pagi waktu setempat (05.00 GMT), Abbadeh Zakrah, sukarelawan White Helmets cabang distrik Maaret al-Numaan, mengatakan pada Al Jazeera.
“Suara bom gentong tidak berhenti sepanjang hari,” katanya. “Bombardir itu menarget penduduk sipil yang menyelamatkan diri dari desa dan kota di dekat jalan utama.
“Ini adalah pemboman kejam dan sistematis untuk memaksa orang-orang keluar dari wilayah utara,” kata Zakrah.
Serangan tanpa henti
Pada April, pasukan rezim Suriah dan sekutunya melancarkan serangan darat dan udara di barat laut Suriah, wilayah terakhir yang dikuasai pejuang oposisi di Suriah. Lebih dari 1.000 penduduk sipil telah terbunuh dalam serangan itu, menurut Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), sementara ratusan ribu lainnya menjadi pengungsi sejak eskalasi dimulai.
Rusia, yang mendukung rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad, dan Turki, pendukung lama faksi-faksi oposisi, mensponsori kesepakatan de-eskalasi di barat laut Suriah pada awal tahun ini yang sejak itu telah goyah.
Pasukan dukungan Rusia terus melancarkan serangan udara ke wilayah-wilayah berpenduduk untuk melemahkan kelompok pejuang oposisi yang telah, sejauh ini, menggagalkan upaya rezim merebut kembali wilayah yang mereka duduki.
Pemerintah rezim Suriah dan pasukan Rusia menyerang dua kamp pengungsian internal pada Senin, menurut White Helmets.
Baru-baru ini tentara Suriah berhasil merebut wilayah yang dikuasai pasukan oposisi yang bersebelahan di provinsi Hama, serta di kota Khan Sheikhoun di Idlib.
Mereka sekarang nampaknya bergerak ke utara, menurut Maaret al-Numan, yang jalan utamanya menghubungkan Damaskus dengan kota Aleppo.
Pemerintah Suriah telah berjuang untuk mengendalikan jalan raya strategis, sebuah langkah yang akan memungkinkannya untuk menghubungkan kota-kota di bawah kendalinya dan meningkatkan perdagangan.
Wilayah itu menjadi rumah bagi tiga juta orang, sekitar separuhnya adalah mereka yang dipindahkan dalam kelompok besar dari bagian lain negara itu yang berhasil dikuasai oleh pasukan pro-pemerintah.
Perang di Suriah telah membunuh ratusan ribu orang dan jutaan orang menjadi pengungsi sejak itu pecah pada tahun 2011 karena penindasan terhadap demonstrasi damai anti-pemerintah.*