Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Langsung dari Gaza

Gush Katif: Contoh Sempurna Sebuah Futuhat

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 21 April 2012 07:09
Bagikan
Bagikan

Gush Katif. (Foto: Google)

Hidayatullah.com– Apa yang akan dilakukan para Mujahidin Palestina kalau seluruh wilayah tanah suci ini berhasil dibebaskan (futuh) dari penjajahan?

Jawabannya bisa dikira-kira kalau kita berkunjung di Gush Katif. Ini sebuah kawasan Gaza yang dulunya seratus persen dikuasai oleh Zionis Yahudi sejak tahun 1967. Pada bulan Agustus 2005, Perdana Menteri Zionis Ariel Sharon memutuskan menarik mundur semua pemukim Yahudi di tanah subur itu. Jumlah mereka seluruhnya hanya sekitar 9000 orang.

Baca Juga

MUI Apresiasi Pertemuan OKI Bahas Masjid Al-Aqsha yang Dinodai ‘‘Israel’’
Hamas akan Memilih Kepala Cabang Baru Gaza Minggu Ini
Gaza Memulai Upaya Inokulasi di Tengah Kekurangan Vaksin Covid-19
Indonesia Bisa Terima Miliaran Dollar Dari Amerika jika Normalisasi dengan ‘‘Israel’’
Gaza Cabut Pembatasan Covid-19, Masjid hingga Pasar Dibuka Kembali

Saat menarik mundur pemukim Yahudi dari wilayah ini, para tentara Sharon diperintahkan menghancurkan semua rumah-rumah tinggal mewahnya, supaya tak bisa ditempati tinggal oleh rakyat Palestina.

Pemukim Yahudi di Gush Katif dipaksa keluar dan pindah oleh tentara Israel atas perintah PM Ariel Sharon, Agustus 2005. (Foto: google)

Sejak itu, pemerintah Gaza yang dipimpin oleh Perdana Menteri Ismail Haniyah, menjadikan Gush Katif sebagai salah satu sumber kesejahteraan ekonomi bagi rakyat Gaza yang kini berjumlah 1,7 juta jiwa.

Lihat perbandingannya, dari yang tadinya hanya bisa dinikmati 9000 orang, kini oleh 1,7 juta. Dalam bentuk apa?

Dalam bentuk Universitas Al-Aqsa untuk 17 ribu mahasiswa dan mahasiswi plus sekitar 200an orang dosen, sebuah komplek rekreasi bernama Madinatul ‘Azda seluas sekitar 50 hektar, dan perkebunan subur seluas lebih dari 500 hektar.

Tim Sahabat Al-Aqsha (SA2Gaza) diajak oleh seorang Komisaris Besar Polisi Gaza untuk berkeliling di kawasan Gush Katif dan Neve Dekalim.

“Dulu waktu orang Yahudi menguasai kawasan ini, tidak satu orang Palestina pun dibolehkan lewat atau masuk di sini,” kata Kombes Polisi Abu Muhammad, sengaja tidak disebut nama aslinya.

Saat berkunjung di Madinatul ‘Azda, kami menjumpai belasan bus berisi ratusan anak sekolah dari wilayah Gaza yang lain, berekreasi ke tempat yang lanskapnya indah itu. Gabungan antara dataran pasir yang menjorok ke pantai dan perbukitan pasir.

Di situ ada taman ria dengan peralatan yang sudah tua berwarna-warni cerah. Ada kebun binatang yang tak seberapa besar. Ada kolam rekreasi air lengkap dengan perosotan raksasa warna-warni. Ada perbukitan pasir yang di sana-sini ditumbuhi berbagai jenis pohon dan semak-semak hijau, dan di sana sini ada gazebo tempat orang duduk santai sambil menikmati secangkir kopi arab, kurma dan kebab.

Karena bersama dua orang perwira polisi, kami digratiskan masuk oleh penjaga di depan pintu gerbangnya.

Di bawah sebuah gazebo beratap daun kurma kering, Abu Muhammad menjelaskan, “Sejak bangkitnya Intifadhah pertama tahun 1987, tidak henti-hentinya para Mujahidin menyerang tentara Yahudi yang menjaga kawasan ini…”

Salah seorang anggota Tim SA2Gaza menimpali, “kawasan ini mirip dengan yang dipakai pembuatan film ‘Imad Aqil ya…?”

“Yaaa betul,” kata Abu Muhammad, “Di sinilah memang pembuatan filmnya. Dan memang di sini jugalah salah satu daerah operasi jihad ‘Imad Aqil.”

Di Universitas Al-Aqsa yang komplek bangunannya indah, kami disambut oleh Dr Hamid Moammar, dosen ilmu Tarbiyah lulusan Sudan. “Selamat datang… bangunan rektorat ini dulunya kantor kecamatan Neve Dekalim, pusat pemerintahan bagi 17 kawasan pemukiman Yahudi di Gush Katif ini,” jelasnya.

Di dekat tempat kami ngobrol, dua bis tua siap mengangkut para mahasiswi pulang ke rumahnya. Kawasan ini memang terletak agak jauh dari pusat-pusat pemukiman rakyat Gaza seperti Rafah, Khan Yunis, maupun kota Gaza.

“Seluruh komplek ini, dipertahankan bentuknya sebagaimana dulu kami mengambil alih dari Yahudi Zionis,” jelas Abu Muhammad.

Tiba-tiba saja, Abu Yunus, seorang pengawal Tim SA2Gaza yang sangat pendiam, berkata sambil tersenyum, “Saya ikut membebaskan Gush Katif.” Saat ditanya lebih jauh apa saja pengalamannya ketika itu, Abu Yunus hanya senyum-senyum dan kembali menjadi pendiam.

Sampailah kami di perkebunan Gush Katif yang sangat terkenal. Dengan nada penuh kebanggaan, Abu Muhammad mengajak kami mengunjungi salah satu mata air. “Ada dua alasan kenapa Yahudi Zionis mati-matian mempertahan tempat ini,” katanya, “pertama, garis pertahanan militer yang sangat strategis menghadapi Mesir jika sewaktu-waktu terjadi perang lagi; kedua, karena di seluruh kawasan ini terdapat 30 mata air kaya. Satu-satunya di Gaza yang kualitas airnya melimpah dan tidak perlu dimasak lagi untuk diminum.”

Abu Muhammad mengajak kami singgah di sumur air no. 23, berpagar beton, yang dijaga oleh seorang pria  yang ramah. Sebuah papan bertuliskan “Otorita Palestina” dan berlambang burung elang terpasang dengan nomor sumur yang tertera. Sebuah mesin pompa tua berwarna hitam berteriak-teriak bising memompakan ribuan galon air setiap hari ke kebun-kebun di sekitarnya.

Abu Muhammad meminta pria itu mencopot sebuah selang hitam, dan menyuruh salah seorang anggota Tim SA2Gaza meminum airnya. Mmmm…. bening dan segar.

Sesudah inspeksi mendadak di sumur itu, kami diajak berkeliling melihat-lihat kebun yang sebagian besar tak terurus. Ada pepohonan kurma. Gandum. Dedaunan mint yang hijau segar. Ada juga jambu dan pepaya. Jambu dan pepaya? Ya jambu dan pepaya.

Menuru Abu Muhammad, pengepungan militer-ekonomi-politik yang dilakukan Israel atas Gaza mengakibatkan ratusan hektar perkebunan tak bisa dikelola dengan baik. “Selain modal asing dicegah untuk masuk, kalaupun panen kami dicegah untuk menjualnya keluar…” tukasnya.

Di dalam mobil yang meluncur ke arah Rafah, Abu Muhammad menutup pembicaraan kami tentang Gush Katif. “Jangan khawatir, selama jihad masih berlangsung, hanya tinggal tunggu waktu saja…”* (Sahabatalaqsha.com)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Syathir Serahkan Calon Presiden Kepada Muhammad Mursy
Tulisan selanjutnya Ibu-ibu Gaza dan ‘Apotik Hidup’

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz

Berita
4 Juni 2026 10:00
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Langsung dari Gaza

2 Nelayan Gaza Tewas Ditembak Tentara Mesir Saat Melaut

28 September 2020 09:33
membombardir saudi
Langsung dari Gaza

Hamas Umumkan Kesepakatan Akhiri Agresi ‘Israel’ di Gaza

1 September 2020 08:59
membombardir saudi
Langsung dari Gaza

Israel Kembali Gempur Gaza dengan Serangan Drone dan Pesawat Tempur

28 Agustus 2020 20:57
Langsung dari Gaza

Empat Warga Palestina Meninggal Dunia dalam Serangan ‘Israel’ di Gaza

26 Agustus 2020 12:49
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?