Hidayatullah.com | Sahabat al Aqsha.com— Selama dua pekan di Gaza, tim hidayatullah.com dan SahabatAlaqsha menyalurkan bantuan dan meninjau sejumlah proyek yang telah berjalan di Gaza. Di antaranya Taman Kanak-kanak Bintang al-Qur’an di Jabaliya, Gaza Selatan, TK yang dibiayai sepenuhnya oleh rakyat Indonesia untuk sekitar 140 anak-anak tidak mampu di Gaza. (informasi lengkap tentang program-program bisa kunjungi situs www.sahabatalaqsha.com).
Selama di Gaza, tim juga melakukan kunjungan ke sejumlah instansi pemerintah, instansi pendidikan, dan lainnya untuk membicarakan kerjasama-kerjasama strategis antara Indonesia dan Palestina. Sejumlah proyek telah disepakati dan siap dilaksanakan.
Selama di Gaza, hidayatullah.com memanfaatkan waktu sebanyak mungkin bergaul dengan berbagai kalangan di Gaza untuk menyerap dan memahami watak warga Gaza yang tabah menghadapi blokade dan serangan-serangan Zionis Israel yang tidak pandang bulu.
Hidayatullah.com sempat menemui Mustafa bin Ahmad al-Qanu’, Pimpinan Hamas Wilayah Gaza Utara. Kepadanya kami banyak menggali dan bertanya tentang perang delapan hari yang dijuluki Hijarah as Sijjil (Batu Neraka). Inilah petikan wawancara kami;
Bagaimana kondisi masyarakat Gaza setelah pertempuran Hijaratus Sijjil selama 8 bulan November lalu?
Setelah pertempuran delapan hari beberapa waktu lalu, Gaza Alhamdulillah dalam keadaan baik, mampu bertahan dan Gaza selalu siap untuk kembali membalas serangan-serangan dari pihak zionis Israel kapan pun. karena kita semua tahu bahwa watak musuh kita ini adalah doyan melanggar kesepakatan. Maka dengan bertawakkal kepada Allah, Gaza selalu siap jika harus kembali menghadapi musuh dalam pertempuran yang baru.
Namun sekali lagi Alhamdulillah, dengan keberhasilan Gaza memenangkan pertempuran, masyarakat merasa bahagia, kondisi Gaza juga jauh membaik. Kemudian setelahnya, berdatanganlah bergagai rombongan dari berbagai negara Arab dan negara Islam lainnya memberikan dukungan untuk Gaza, mengucapkan selamat atas kemenangan melawan Zionis Israel, memberikan berbagai bantuan kemanusiaan dan membangun kembali Gaza.
Bagaimana posisi tawar Hamas terhadap Israel saat ini?
Ini adalah gencatan senjata dan bukan kesepakatan perdamaian. Jadi ini sifatnya hanya sementara yang mungkin saja hanya berlansung beberapa bulan atau mungkin juga berlangsung lama seperti gencatan senjata pada awal 2009 lalu yang berjalan selama 3 tahun. Dan kali ini juga kami sadar bahwa musuh kami ini memang pelanggar kesepekatan, jadi –seperti yang dikatakan sebelumnya- kami siap. Brigade Izzuddin al-Qasssam dan gerakan perjuangan lainnya juga siap kalau sewaktu-waktu harus kembali melawan mereka.
Maka posisi kami di masa gencatan senjata yang memilik berbagai kemungkinan ini tidak berubah, seperti dikatakan Perdana Menteri Ismail Haniya, tidak akan mengakui keberadaan Israel, tidak akan berdamai dengan mereka, dan tidak akan menyerahkan tanah palestina walaupun hanya sejengkal.
Kita ketahui bersama, sampai saat ini al-Quds masih dijajah oleh Zionis. Begitu juga dengan tanah tanah palestina lainnya. Kami tidak memungkiri akan keinginan kita hidup damai, namun bagaimanapun hubungan kita sebagai umat muslim dengan Yahudi seperti firman Allah, Yahudi adalah kaum yang paling keras permusuhannya terhadap Islam (QS al-Maidah ayat 51).
Untuk itulah kami tidak bisa terima kebijakan Mahmud Abbas yang mengakui kedaulatan Israel dan menerima Palestina hanya 5 persen dari luas keseluruhan tanah Palestina.
Israel bersedia memenuhi seluruh persyaratan yang diajukan pihak hamas demi tercapainya gencatan senjata. Bagaimana anda memandang hal ini?
Sebetulnya pihak Zionis Israel tidak bersedia memenuhi seluruh persyaratan, hanya beberapa persyaratan saja. Karena sesungguhnya syarat utama yang diajukan oleh Hamas adalah agar seluruh penduduk Israel meninggalkan tanah Palestina dan kembali ke negara mereka masing-masing. Mereka memang bersedia memenuhi beberapa persyaratan namun mereka juga menolak sebagian lainnya.
Apakah permintaan diadakannya gencatan senjata ini datang dari pihak Israel?
Benar, pada dasarnya merekalah yang meminta gencatan senjata ini. Mereka meminta Amerika dan negara PBB lainnya untuk turun tangan dalam mencapai gencatan senjata ini. Sebabnya, karena pihak Zionis Israel tidak menyangka Hamas bisa meroket Tel Aviv dan al-aQuds (Yerusalem) yang benar-benar mengejutkan mereka.
Persiapan apa yang dilakukan rakyat Gaza di masa masa gencatan senjata seperti ini?
Sebagaimana perintah Allah dalam al-Qur’an Surat al Anfal ayat 60…maka kita harus senantiasa mempersiapkan diri untuk menghadapi musuh dengan persiapan seadanya. Kita tidak punya senjata mutakhir seperti yang dimiliki oleh musuh, namun kita memiliki keinginan untuk terus berjuang melawan mereka. Dan itu yang terus kami asah. Kami punya akidah dan nilai nilai jihad yang akan terus kami sosialisasikan kepada para pemuda kami agar terus menjaga semangat berjuang mereka.
Kemajuan apa saja yang dimiliki oleh Hamas selain roket nya yang fenomenal?
Informasi tentang teknologi persenjataan Brigade Izzudin al-Qassam bukanlah konsumsi umum. Tidak ada pihak yang mengetahui tentang hal hal tersebut kecuali pihak Qassam sendiri. Berbagai Teknologi baru yang Qassam tunjukkan pada perang 8 hari lalu juga sebenarnya tidak hanya mengejutkan pihak musuh. Kami pun masyarakat Gaza juga terkejut dengan berbagai kemampuan baru mereka. Seperti roket M75 yang untuk pertama kalinya berhasil menghantam Tel Aviv dan al-Quds, roket anti tank, senjata anti pesawat, dan lainnya.
Sebetulnya, bantuan apakah yang paling dibutuhkan rakyat Gaza saat ini?
Sebagaimana dikatakan dalam sebuah
Negara-negara Arab dan Negara Muslim seperti Indonesia contohnya, memasok untuk kami alat alat persenjataan
sya’ir, “A’thuunaa madafi’akum, walaa madami’akum.” (Berikan kami senjata senjata kalian, bukan air mata kalian).
Sejujurnya, hal yang paling kami butuhkan saat ini adalah pasokan senjata. Sebagaimana Amerika senantiasa memasok berbagai senjata canggih mereka untuk Israel maka seharusnyalah Negara-negara Arab dan Negara Muslim seperti Indonesia contohnya, memasok untuk kami alat alat persenjataan. Tidak melulu bantuan berupa dana dan kebutuhan pokok seperti makanan dan lain lain. Kalau Negara- negara Muslim yang mendukung Gaza tidak sanggup mengirimkan tentaranya, maka cukup untuk kami persenjataannya saja. Karena setahu saya, alat-alat militer lama tidak dimanfaatkan akan berkarat dan rusak.*/Muhammad Husain, Surya Fachrizal